HASAKAH (Arrahmah.id) -- Penjara dan kamp keluarga Al Hol, yang lama menjadi tempat penahanan bagi keluarga dari anggota kelompok militan Islamic State (ISIS) termasuk perempuan dan anak, mengalami penurunan populasi drastis sejak awal Februari 2026 setelah pasukan Kurdi Syrian Democratic Forces (SDF) menarik diri dan otoritas Suriah mengambil alih kontrol kamp.
Dilansir Financial Times (19/2/2026), mulai akhir Januari dan sepanjang Februari ribuan tahanan berhasil keluar dari kamp tersebut, baik melalui lubang pada pagar maupun pengaturan kendaraan, karena tidak adanya penjagaan efektif setelah perubahan kontrol keamanan.
Dalam kekacauan pengambilalihan penjara Al Hol di timur laut Suriah, ribuan keluarga dan individu yang sebelumnya ditahan karena dugaan keterkaitan dengan ISIS berhasil melarikan diri dari fasilitas tersebut, sementara laporan lokal menyebut sekitar 182 warga negara Indonesia (WNI) juga ikut kabur bersama lainnya, sebuah perkembangan yang memicu kekhawatiran terkait keamanan dan tantangan repatriasi.
Laporan Financial Times menyebut bahwa hampir seluruh lebih dari 24.000 penghuni kamp itu telah “lenyap” secara misterius selama sebulan terakhir, menambah kekhawatiran internasional tentang potensi penyebaran orang-orang dengan simpati atau hubungan dengan ISIS di luar Suriah tanpa pengawasan atau proses hukum.
Menurut organisasi bantuan dan analis keamanan, peningkatan jumlah pelarian terjadi setelah SDF mundur dari Al Hol pada 20 Januari, meninggalkan ruang keamanan yang rapuh saat unit pasukan Suriah baru tiba, yang menurut beberapa pengamat tidak mampu sepenuhnya mengendalikan situasi dan mencegah eksodus massal penduduk kamp.
Al Hol pada masa puncaknya menampung 80.000 orang dari berbagai negara, termasuk lebih dari 6.000 warga asing dari sekitar 40 negara, selain warga Suriah dan Irak. Setelah perubahan kontrol, banyak keluarga melarikan diri ke wilayah Idlib serta beberapa provinsi lain di Suriah utara dan barat, sementara kelompok bantuan PBB memperkirakan hanya sisa beberapa ratus keluarga yang masih berada di kamp.
Situasi ini mendapat sorotan global karena kondisi di Al Hol selama bertahun-tahun telah menjadi simbol tantangan internasional dalam menangani keluarga bekas anggota ISIS yang belum diadili.
UNHCR mencatat penurunan drastis populasi kamp dan menyatakan siap membantu relokasi mereka yang tersisa ke fasilitas baru di provinsi Aleppo, sementara pihak berwenang Suriah menyebut relokasi itu perlu dilakukan karena kondisi Al Hol tidak layak untuk ditinggali.
Para pejabat keamanan dan analis internasional mengangkat kekhawatiran bahwa pelarian besar-besaran ini bisa memberikan peluang bagi mantan simpatisan ISIS atau individu yang masih radikal untuk bergerak bebas, sekaligus memperumit upaya global dalam penanganan para tahanan ekstremis dan keluarga mereka secara hukum. (hanoum/arrahmah.id)
