Memuat...

Orang-Orang yang Hilang di Gaza: Tragedi Senyap yang Menghantui Ribuan Keluarga

Zarah Amala
Rabu, 2 Juli 2025 / 7 Muharam 1447 07:10
Orang-Orang yang Hilang di Gaza: Tragedi Senyap yang Menghantui Ribuan Keluarga
Perkiraan terbaru dari PBB menunjukkan bahwa jumlah orang hilang di Gaza berkisar antara 8.000 hingga 11.000 (Al Jazeera)

GAZA (Arrahmah.id) - Di tengah perang genosida yang terus berlangsung di Jalur Gaza, isu orang hilang menjadi saksi nyata atas besarnya pelanggaran yang dilakukan oleh 'Israel'. Jumlah mereka kini melampaui 11 ribu orang, termasuk anak-anak, perempuan, dan lansia.

Dalam laporan yang ditayangkan Al Jazeera, kasus hilangnya warga Gaza memiliki beragam bentuk: ada yang terkubur di bawah reruntuhan rumah mereka, ada yang mengungsi tanpa jejak, dijadikan tameng manusia, atau diculik secara paksa untuk ditahan tanpa kabar apapun. Keluarga mereka hidup dalam ketidakpastian, terombang-ambing antara harapan dan keputusasaan.

Sejak dimulainya agresi 'Israel', ribuan keluarga Palestina hidup dalam kegelisahan yang tiada akhir, mencari kabar tentang orang-orang tercinta yang hilang. Data dan statistik resmi pun berbeda-beda, namun kenyataannya kemungkinan jauh lebih mengerikan daripada angka yang diumumkan.

Berbagai laporan dari lembaga internasional dan lokal menyebutkan bahwa ribuan jenazah masih tertimbun di bawah reruntuhan akibat serangan udara dan pengeboman 'Israel'.

Nasib Tak Diketahui

Perkiraan terbaru dari PBB menunjukkan bahwa jumlah orang hilang di Gaza berkisar antara 8.000 hingga 11.000, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak, dan hingga kini nasib mereka belum diketahui. Angka ini juga dikonfirmasi oleh Kantor Media Pemerintah di Gaza kepada Al Jazeera. Sementara lembaga statistik Palestina memperkirakan terdapat 6.000–8.000 orang yang tertimbun di bawah reruntuhan namun belum secara resmi diklasifikasikan sebagai orang hilang.

Observatorium Euro-Med untuk Hak Asasi Manusia mencatat lebih dari 13.000 orang diduga masih terkubur di bawah rumah-rumah yang hancur atau dimakamkan di kuburan massal. Organisasi Save the Children menyebut bahwa antara 17.000 hingga 21.000 anak Palestina kini dinyatakan hilang.

Minimnya alat dan kemampuan untuk mengevakuasi korban serta mengidentifikasi jenazah membuat pencarian orang hilang menjadi sangat rumit. Bahkan, tak sedikit yang menjadi korban jiwa saat kembali ke rumah mereka yang hancur demi mencari anggota keluarga yang mungkin masih tertimbun.

Penghilangan Paksa dan Penahanan

Sejumlah laporan juga menyebut adanya praktik penghilangan paksa terhadap warga sipil, di mana korban diculik tanpa informasi apapun tentang keberadaan mereka. Organisasi-organisasi HAM lokal menduga, sebagian dari mereka mungkin kini berada di penjara-penjara 'Israel'.

Menurut laporan jurnalis Abdul Qader Arara untuk Al Jazeera, ada kemungkinan bahwa sebagian orang yang hilang telah dijadikan tameng manusia oleh tentara 'Israel', praktik yang telah didokumentasikan oleh sejumlah lembaga internasional. Laporan-laporan juga menunjukkan ditemukannya kuburan massal, yang menjadi bukti terjadinya pembantaian dan upaya penghilangan jejak kejahatan. Fenomena ini terus terulang sepanjang perang.

Contohnya, setelah pasukan 'Israel' mundur dari RS Nasser di Khan Yunis, ditemukan kuburan massal berisi ratusan jenazah, beberapa di antaranya dalam kondisi tangan terikat. Begitu pula saat pengepungan RS Al-Shifa, di mana pasien, tenaga medis, dan pengungsi dipaksa keluar dengan ancaman senjata, berjalan kaki tanpa jaminan keselamatan. Banyak dari mereka tak pernah sampai ke tujuan, hingga kini tak diketahui nasibnya.

Tameng Manusia dan Kejahatan Sistematis

Laporan Al Jazeera menyebut bahwa militer 'Israel' kerap mengeluarkan perintah evakuasi ke daerah yang diklaim aman, lalu mengebom tempat itu sesaat setelah warga berkumpul, menambah jumlah korban dan orang hilang. Di saat yang sama, 'Israel' secara aktif melakukan kejahatan penghilangan paksa, tuduhan yang turut didukung oleh berbagai lembaga HAM internasional.

'Israel' juga secara luas menggunakan warga Palestina sebagai tameng hidup, sebuah praktik yang didokumentasikan oleh media global seperti Al Jazeera dan Associated Press. Bahkan, organisasi 'Israel' Breaking the Silence menyebut tindakan ini sebagai “kehancuran moral total” dan taktik sistematis dalam tubuh militer pendudukan.

Antara terkubur di bawah puing-puing, ditahan tanpa kabar, hilang di tengah perjalanan, atau ditemukan sebagai jenazah tak dikenal, semua ini menjadi bagian dari pola pembantaian yang disengaja dan sistematis. Sementara itu, 'Israel' terus menyangkal segala tuduhan dan menghalangi kerja organisasi internasional, termasuk mencegah investigasi atau bahkan pendekatan ke lokasi kejadian.

Namun, puing-puing Gaza menyimpan bukti-bukti kejahatan yang tak dapat disembunyikan selamanya. (zarahamala/arrahmah.id)