GAZA (Arrahmah.id) - Serangan 'Israel' berlanjut di Jalur Gaza meski gencatan senjata masih berlaku sejak 10 Oktober. Sedikitnya 23 warga Palestina, termasuk 8 anak-anak, gugur dalam serangan udara, laut, dan darat di berbagai wilayah Gaza dan Khan Yunis pada Senin malam (27/10/2025).
Menurut laporan Al Jazeera dan WAFA, pesawat tak berawak 'Israel' menargetkan sekelompok warga yang tengah memeriksa rumah mereka di Abasan al-Kabira, sebelah timur Khan Yunis. Serangan itu menewaskan dua orang dan melukai beberapa lainnya. Salah satu korban diidentifikasi sebagai Farid Hassan Qdeih (45).
Sementara itu, Nasser Medical Complex mengonfirmasi bahwa para korban meninggal akibat serangan drone saat memeriksa reruntuhan rumah mereka. Di saat yang sama, pasukan pendudukan 'Israel' melepaskan tembakan senapan mesin ke arah timur Khan Yunis dan melancarkan tiga serangan udara tambahan, menghantam beberapa bangunan di kawasan itu.
Di Rafah, kapal perang dan tank 'Israel' terus menembaki pesisir dan kawasan al-Mawasi, sementara di Gaza City, pasukan pendudukan meledakkan beberapa rumah penduduk. Sumber setempat menyebutkan drone 'Israel' juga menjatuhkan bom di dekat kamp pengungsian Sheja’iyya, menewaskan sedikitnya 21 warga, termasuk anak-anak.
Tim penyelamat melaporkan kesulitan besar dalam mengevakuasi korban karena serangan udara yang terus berlangsung dan pesawat tempur yang masih berputar di langit Gaza.
Sementara itu, Channel 12 Israel mengutip seorang pejabat tinggi yang mengatakan bahwa serangan terbaru “tidak bertujuan mengakhiri gencatan senjata, melainkan untuk menegakkannya.” Ia menambahkan bahwa Hamas harus takut terhadap kembalinya perang.
Di sisi lain, Turki mengecam keras serangan 'Israel', menyebutnya sebagai “pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata.”
Brigade al-Qassam, sayap militer Hamas, mengumumkan penundaan penyerahan jenazah seorang tentara 'Israel' yang ditemukan di terowongan Khan Yunis, dengan alasan pelanggaran 'Israel' telah menghambat upaya penggalian.
Sementara Wakil Presiden AS J.D. Vance menyatakan bahwa Washington “memahami kemungkinan adanya respons Israel” setelah tewasnya seorang tentara di Gaza, namun menegaskan gencatan senjata masih berlaku sejauh ini.
Sejak gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober, sedikitnya 93 warga Palestina tewas dan lebih dari 300 lainnya luka-luka akibat serangan 'Israel'. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa sejak awal perang pada 7 Oktober 2023, total korban tewas telah mencapai 68.519 jiwa dan 170.382 lainnya luka-luka. (zarahamala/arrahmah.id)
