GAZA (Arrahmah.id) - Sayap militer Gerakan Jihad Islam, Saraya al-Quds, merilis rekaman video yang menunjukkan para pejuangnya menggempur pasukan dan kendaraan militer 'Israel' dengan tembakan mortir di Khan Yunis, Jalur Gaza bagian selatan. Serangan itu juga menargetkan jalur pasokan logistik militer 'Israel'.
Video tersebut memperlihatkan proses persiapan peluncuran mortir, eksekusi penembakan oleh para pejuang, hingga dampak langsung dari ledakan di lokasi sasaran, yang tampak diselimuti asap tebal.
Dalam operasi sebelumnya, Saraya al-Quds juga melaporkan keberhasilan meledakkan kendaraan militer 'Israel' dengan alat peledak yang telah ditanam empat hari sebelumnya di Jalan Kissufim, timur laut Khan Yunis.
Sementara itu, Brigade al-Qassam mengumumkan telah menggempur pos komando dan kendali militer 'Israel' di sebelah timur lingkungan Al-Tuffah, Kota Gaza, menggunakan mortir.
Mereka juga melaporkan bahwa seorang prajurit 'Israel' ditembak oleh sniper Al-Qassam di Abasan Al-Kabira, sebelah timur Khan Yunis, dengan luka yang diklaim fatal.
Brigade Syuhada Al-Aqsa turut mengklaim telah meluncurkan mortir kaliber berat ke arah konsentrasi pasukan dan kendaraan militer 'Israel'. Selain itu, mereka mengaku berhasil menjatuhkan sebuah drone pengintai milik 'Israel' di atas wilayah Khan Yunis.
Media 'Israel' mengonfirmasi bahwa pertempuran sengit terjadi di Khan Yunis pada Sabtu (12/7/2025), dengan beberapa tentara 'Israel' harus dievakuasi melalui udara akibat luka-luka. Sumber-sumber tersebut menyebut para pejuang Palestina keluar dari terowongan dan bertempur langsung dengan pasukan 'Israel', serta meledakkan rumah-rumah yang telah dipasangi jebakan.
Strategi Baru Hamas: Operasi Fedayeen
Mengutip media berbahasa Ibrani, Quds News menyatakan bahwa militer 'Israel' memperkirakan Hamas akan meningkatkan upaya untuk menangkap tentara 'Israel' dalam waktu dekat. Seorang sumber keamanan senior yang dikutip surat kabar Israel Hayom menyebut bahwa Hamas kini menerapkan pola operasi Fedayeen, aksi berani mati dan pertempuran jarak dekat, dengan keberanian yang meningkat.
Militer 'Israel' mengaitkan eskalasi ini dengan perubahan pendekatan operasional mereka sendiri. Salah satu insiden terbaru terjadi pekan lalu, ketika sekelompok pejuang keluar dari terowongan bawah tanah dan menyerang buldoser militer, dalam upaya menangkap Sersan Kelas Satu Avraham Azoulay. Azoulay tewas saat mencoba melarikan diri dari sergapan.
Karena kekhawatiran akan meningkatnya upaya penculikan tentara, komando 'Israel' telah menginstruksikan pasukannya untuk meningkatkan kewaspadaan, sembari mengakui bahwa Hamas akan memanfaatkan setiap celah dalam penyebaran pasukan 'Israel'.
Perdebatan di Tubuh Militer 'Israel'
Militer 'Israel' dilaporkan melakukan investigasi internal setelah setiap insiden yang menyebabkan korban. Namun, pola operasi perlawanan yang semakin variatif dinilai menyulitkan pengambilan keputusan taktis di lapangan.
Salah satu topik perdebatan yang mencuat di internal militer adalah efektivitas penggerebekan rumah-rumah warga Gaza untuk tujuan penyisiran, menyusul sejumlah kasus di mana rumah-rumah itu ternyata dipasangi ranjau rakitan.
Diskusi juga mencakup langkah pengamanan kendaraan tempur lapis baja, yang kerap menjadi sasaran ranjau atau alat peledak yang ditempelkan oleh pejuang Palestina. Meskipun pendampingan oleh pasukan infanteri dianggap perlu untuk mencegah hal ini, kehadiran mereka justru meningkatkan risiko korban dari serangan langsung. (zarahamala/arrahmah.id)
