WASHINGTON (Arrahmah.id) -- Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth menjadi sorotan setelah pernyataan dan rekam jejak retorikanya kembali diperdebatkan, termasuk narasi yang menyebut Islam sebagai musuh Amerika Serikat, bukan sekadar kelompok Sunni atau Syiah.
Dilansir New York Times (20/3/2026), Hegseth memang memiliki sejarah panjang menggunakan retorika keras terhadap Islam. Dalam buku dan pernyataan publik sebelumnya, ia menggambarkan Islam sebagai “musuh Barat” serta mengaitkannya dengan ancaman terhadap peradaban Barat.
Kontroversi ini kembali mencuat di tengah perang antara Amerika Serikat dan Iran, ketika pendekatan religius Hegseth terhadap konflik mendapat sorotan luas. Laporan Associated Press menyebut Hegseth kerap memasukkan unsur kekristenan Evangelis dalam komunikasi dan kebijakan militer, sehingga memicu kekhawatiran tentang netralitas agama dalam institusi militer AS.
Dalam berbagai pernyataannya, Hegseth juga menggambarkan Iran sebagai ancaman ideologis berbasis “Islamisme ekstrem”, yang menurutnya menjadi bagian dari konflik yang lebih luas antara Amerika dan musuh ideologisnya.
Meski demikian, retorika Hegseth tetap menuai kritik dari akademisi dan kelompok hak sipil yang menilai narasi tersebut berpotensi memperkuat sentimen Islamofobia serta memperdalam polarisasi, terutama di tengah konflik geopolitik yang sensitif.
Perdebatan ini menunjukkan bagaimana narasi keagamaan dalam kebijakan luar negeri dapat memicu kontroversi global, terutama ketika dikaitkan dengan operasi militer dan konflik di kawasan Timur Tengah. (hanoum/arrahmah.id)
