TEL AVIV (Arrahmah.id) - Situasi di Timur Tengah semakin membara pada Senin pagi (23/3/2026) setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) meluncurkan gelombang serangan rudal ke-75. Serangan kali ini menggunakan rudal tandan (cluster missile) yang menyasar wilayah tengah dan selatan 'Israel', menyebabkan kerusakan signifikan di kota Petah Tikva, sebelah timur Tel Aviv.
Media 'Israel' melaporkan serpihan rudal jatuh di sedikitnya delapan lokasi berbeda di pusat negara, memicu kebakaran di beberapa titik termasuk di dekat pemukiman Nir Am dekat Jalur Gaza. Sementara itu, ledakan keras juga terdengar di pinggiran timur Teheran saat sistem pertahanan udara Iran aktif mencegat serangan balasan yang diduga datang dari jet tempur AS atau 'Israel'.
Rudal tandan Iran pecah di udara dan menghujani delapan lokasi di pusat 'Israel' dengan serpihan hulu ledak. Laporan Yedioth Ahronoth menyebutkan terjadi kerusakan infrastruktur yang luas, meski tim medis masih melakukan penyisiran untuk mencari kemungkinan korban jiwa.
IRGC mengeklaim serangan gelombang ke-75 ini secara spesifik menargetkan titik-titik konsentrasi militer baru 'Israel' dan AS, termasuk di kota Arad. Mereka menegaskan bahwa seluruh pergerakan tentara lawan berada dalam pengawasan penuh unit intelijen Iran.
Selain Tel Aviv, ledakan hebat juga dilaporkan terjadi di wilayah Galilea (utara) dan Negev (selatan). Di Negev, sistem pertahanan 'Israel' berusaha keras mencegat rudal yang mengarah ke fasilitas strategis, sementara beberapa rudal dilaporkan jatuh di area terbuka.
Di saat yang sama, langit Teheran timur dihiasi kilatan cahaya dari aktivitas pertahanan udara. Hal ini menandakan bahwa perang udara kini berlangsung dua arah secara intensif, menyusul ultimatum 48 jam yang diberikan Donald Trump sebelumnya.
Rekaman video dari kota Nir Am memperlihatkan kebakaran besar akibat jatuhnya proyektil dari rentetan rudal terbaru, menambah beban kerja tim pemadam kebakaran di seluruh wilayah 'Israel'.
Dengan diluncurkannya gelombang ke-75 ini, Iran menunjukkan bahwa kemampuan rudalnya belum lumpuh meskipun telah digempur ribuan kali oleh AS dan 'Israel' selama tiga minggu terakhir. Di sisi lain, serangan di Teheran menandakan bahwa AS mungkin mulai merealisasikan ancamannya untuk menargetkan jantung pertahanan Iran jika blokade Selat Hormuz tidak segera diakhiri. (zarahamala/arrahmah.id)
