RIYADH (Arrahmah.id) -- Pemerintah Arab Saudi menyatakan kekecewaan serius kepada Amerika Serikat (AS) atas keputusannya mengalihkan fokus dukungan pertahanan udara di Timur Tengah ke 'Israel', sementara serangan udara balasan Iran terhadap negara-negara Teluk dan sekutu AS terus berlanjut. Saudi menilai keputusan Washington tersebut mengurangi kemampuan Riyadh dan negara Arab lain untuk mempertahankan wilayah udaranya dari ancaman rudal dan drone.
Menurut pernyataan pejabat Saudi, seperti dilansir Modern Ghana News (3/3/2026), Arab Saudi berharap AS akan memperkuat jaringan pertahanan udara regional, termasuk sistem anti-rudal dan sistem radar, untuk menahan serangan Iran yang dilancarkan dalam beberapa pekan terakhir ke negara Teluk seperti Uni Emirat Arab, Qatar, dan Bahrain. Namun, Riyadh menyatakan frustrasi karena sejumlah aset pertahanan dipindahkan untuk fokus pada perlindungan Israel sebagai bagian dari kemitraan strategis AS–Israel.
CNN melaporkan bahwa Saudi melihat perubahan fokus dukungan arah pertahanan udara AS sebagai langkah yang “tidak proporsional”, karena serangan Iran telah memaksa Arab Saudi dan sekutunya memperketat kemampuan pertahanan mereka sendiri. Riyadh menganggap bahwa dukungan AS yang lebih terarah kepada 'Israel' membuat negara-negara Arab Teluk merasa kurang mendapatkan jaminan perlindungan dari ancaman udara yang nyata.
Modern Ghana News mengutip sumber diplomatik menyatakan bahwa Saudi mengharapkan tambahan sistem pertahanan udara yang dipasang di wilayah Teluk untuk menghadapi kemungkinan serangan rudal balasan Iran, namun menyatakan bahwa permintaan tersebut tidak sepenuhnya direspons oleh Washington. Saudi menuding bahwa AS lebih peduli pada keamanannya di 'Israel' dibandingkan dengan keselamatan sekutu di Teluk.
Kekecewaan Riyadh ini muncul di tengah eskalasi konflik yang melibatkan serangan udara oleh Iran setelah serangan AS–Israel terhadap fasilitas di Teheran pada akhir Februari 2026. Serangan balasan Iran telah menarget berbagai infrastruktur militer di negara Arab dan sekutu AS, memperluas ketegangan di kawasan. Hal ini mendorong beberapa negara di Teluk untuk menekan Washington agar memberikan dukungan pertahanan yang lebih konkret dan merata.
Reaksi internasional terhadap pergeseran kebijakan pertahanan AS beragam. Beberapa negara Barat menyatakan perlunya pendekatan yang seimbang antara dukungan militer dan diplomasi di kawasan, sementara organisasi internasional menyerukan agar pertahanan udara regional diperkuat tanpa memecah sekutu berdasarkan keanggotaan blok tertentu. (hanoum/arrahmah.id)
