DOHA (Arrahmah.net) – Delegasi 'Israel' tiba di Doha, Qatar, pada Ahad (6/7/2025), untuk memulai perundingan tidak langsung dengan perwakilan Hamas terkait proposal gencatan senjata dan pertukaran tawanan di Jalur Gaza. Sementara itu, Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu berangkat menuju Washington untuk bertemu Presiden AS Donald Trump, di tengah tekanan internasional yang meningkat untuk mengakhiri perang.
Media 'Israel' melaporkan bahwa kunjungan Netanyahu ke AS bertujuan membahas masa depan Gaza setelah perang, termasuk skenario pascakonflik dan upaya mencapai kesepakatan jangka panjang. Seorang pejabat AS mengatakan kepada situs Walla bahwa Washington berharap dapat menyepakati kerangka kerja bersama dengan 'Israel' terkait pengelolaan Gaza setelah perang berakhir.
“Isu utama yang masih menjadi batu sandungan adalah siapa yang akan menguasai Gaza setelah perang,” ujar sumber tersebut. 'Israel' dan AS disebut ingin menghindari terbentuknya model kekuasaan seperti Hizbullah di Lebanon. Sementara itu, Netanyahu secara terbuka menolak kembalinya Hamas atau keterlibatan Otoritas Palestina dalam pemerintahan Gaza pascaperang.
Respons Hamas dan Sikap AS
Pada Jumat malam (4/7), Hamas menyampaikan respons resminya terhadap proposal mediator Qatar dan menyatakan kesiapannya untuk memulai negosiasi mengenai implementasi kesepakatan. Pernyataan Hamas menyebutkan bahwa langkah tersebut dilakukan setelah berkonsultasi dengan berbagai faksi Palestina untuk menyatukan posisi nasional.
Menurut saluran i24 'Israel', seorang pejabat menyatakan bahwa semua tuntutan Hamas “dapat diterima” oleh pihak AS dan tidak menghambat proses perundingan. Laporan lain menyebutkan upaya sedang dilakukan untuk mencapai terobosan dalam 24 jam ke depan.
Pemerintah AS, melalui utusannya Steve Witkoff, memuji peran Qatar dalam memediasi negosiasi dan menyatakan bahwa “momentum untuk mencapai kesepakatan sangat kuat.”
Isi Proposal Gencatan Senjata
Meski belum ada pernyataan resmi, media 'Israel' mengabarkan bahwa rancangan kesepakatan mencakup:
-
Pembebasan sekitar 10 tawanan 'Israel' yang masih hidup serta 18 jenazah secara bertahap dalam lima tahap selama gencatan senjata 60 hari.
-
Penarikan bertahap pasukan 'Israel' dari area-area tertentu di Gaza.
-
Pembebasan ratusan tahanan Palestina dari penjara 'Israel'.
'Israel' memperkirakan masih ada sekitar 50 warganya yang ditawan di Gaza, 20 di antaranya diyakini masih hidup. Sementara itu, ribuan warga Palestina tetap ditahan di penjara-penjara 'Israel' di bawah kondisi yang digambarkan organisasi HAM sebagai penyiksaan, kelaparan, dan kelalaian medis yang menyebabkan kematian puluhan orang.
Sementara itu, keluarga para tawanan dan kelompok oposisi 'Israel' terus menekan pemerintah Netanyahu untuk menyetujui kesepakatan demi menyelamatkan nyawa para tahanan. Mereka menuduh Netanyahu berulang kali menolak proposal damai demi mempertahankan dukungan dari faksi ekstrem kanan dalam pemerintahannya. (zarahamala/arrahmah.net)
