Memuat...

Tentara 'Israel' Rampok Ternak Milik Petani Palestina di Tepi Barat

Zarah Amala
Jumat, 24 April 2026 / 7 Zulkaidah 1447 11:16
Tentara 'Israel' Rampok Ternak Milik Petani Palestina di Tepi Barat
Petani Palestina jadi target penjarahan sistematis oleh pemukim dan militer 'Israel' (Foto: tangkapan video)

RAMALLAH (Arrahmah.id) - Para peternak di wilayah Tepi Barat bagian utara melaporkan peningkatan drastis dalam aksi penjarahan ternak yang dilakukan oleh tentara 'Israel' dan kelompok pemukim ilegal. Di tengah absennya perlindungan keamanan bagi warga Palestina, insiden perampasan properti, uang tunai, hingga ternak kini terjadi dengan pola yang semakin terorganisir.

Salah satu kesaksian datang dari warga Palestina, Abd al-Adhim Asaliya. Ia menceritakan peristiwa pilu yang dialaminya bersama sang adik, Muhammad, pada Rabu (15/4/2026) malam di pos pemeriksaan militer Ain Siniya, sebelah utara Ramallah.

Saat itu, mereka sedang dalam perjalanan pulang dari Jenin setelah membeli 62 ekor domba. Namun, alih-alih melewati pemeriksaan rutin, nasib mereka berubah menjadi mimpi buruk. Tentara memaksa mereka turun dari truk, memborgol tangan mereka, dan memaksa keduanya berlutut di tanah selama berjam-jam.

Tentara kemudian memanggil sekelompok pemukim ilegal ke lokasi tersebut, sementara kedua bersaudara itu digiring ke dalam menara pengawas militer. Saat mereka ditahan dan dipukuli, para pemukim, dengan bantuan atau pembiaran tentara, mengambil ternak milik mereka.

Kerugian Finansial dan Psikologis

Setelah ditahan hingga menjelang fajar dan mengalami penganiayaan fisik, Asaliya mendapati bahwa 11 ekor domba miliknya raib, dengan nilai kerugian diperkirakan mencapai USD 7.500 hingga USD 8.000. Uang tunai sebesar USD 1.000 yang dibawanya juga hilang.

Asaliya menyatakan bahwa ini bukanlah insiden pertama. Peternakan miliknya di kota Burqa telah menjadi sasaran berulang, di mana perusakan properti dan pencurian ternak telah menjadi pola intimidasi yang bertujuan mematikan sumber ekonomi para petani Palestina.

Di Al-Mughayyir, sebelah timur laut Ramallah, juga terjadi peristiwa serupa. Seorang pemuda Palestina menjadi korban penganiayaan brutal oleh pasukan pendudukan 'Israel' saat ia berupaya melindungi lahan pertaniannya dan mempertahankan kawanan dombanya dari upaya pencurian yang dilakukan oleh kelompok pemukim.

Tindakan ini menciptakan ketakutan mendalam di kalangan peternak. Penjarahan yang terjadi di pos pemeriksaan, lokasi yang seharusnya di bawah kendali ketat militer, menimbulkan pertanyaan besar mengenai keterlibatan langsung aparat keamanan dalam memfasilitasi kejahatan tersebut.

Bagi warga setempat, kehilangan ternak bukan sekadar masalah kerugian uang, melainkan hilangnya sumber mata pencaharian utama. Tanpa adanya mekanisme perlindungan atau penegakan hukum terhadap pelaku, para petani kini merasa terancam untuk terus menjalankan profesi mereka di wilayah yang semakin tidak aman.

Fenomena ini menambah daftar panjang tantangan keamanan yang dihadapi warga Palestina di Tepi Barat, di mana hak atas milik pribadi dan keamanan fisik semakin terpinggirkan oleh tindakan sewenang-wenang. (zarahamala/arrahmah.id)