Memuat...

Terungkap! Trump Umumkan Deadline Ketiga untuk Iran, Apakah Ini “Tipuan Ketiga”?

Oleh Mahmoud LafiPenulis di Aljazeera
Jumat, 27 Maret 2026 / 8 Syawal 1447 13:36
Terungkap! Trump Umumkan Deadline Ketiga untuk Iran, Apakah Ini “Tipuan Ketiga”?
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (tengah), mengklaim bahwa tenggat waktu ketiga diberikan atas permintaan Iran (Associated Press).

(Arrahmah.id) - Beberapa jam sebelum berakhirnya deadline kedua yang diumumkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, Senin lalu, dan yang diwarnai ancaman untuk menyerang fasilitas listrik dan energi Iran jika kesepakatan penghentian perang tidak tercapai, Trump mengejutkan dunia dengan mengumumkan deadline ketiga selama 10 hari. Pengamat menilai, ketiga deadline ini bisa jadi hanyalah "tipuan strategis" untuk membuka jalan dan menyiapkan kondisi bagi serangan menentukan.

Pengumuman deadline ketiga ini bersamaan dengan munculnya dua jalur yang bertolak belakang: pertama, upaya penurunan ketegangan yang dipimpin oleh negara-negara seperti Pakistan, Turki, dan Mesir; kedua, pengumuman opsi militer lanjutan seperti invasi darat ke pulau-pulau minyak Iran atau operasi darat untuk menguasai Selat Hormuz, yang disebut sebagai opsi "serangan menentukan" oleh Pentagon.

Rangkaian Deadline Trump untuk Iran

Dari 21 hingga 26 Maret, Trump mengumumkan tiga deadline berturut-turut untuk Iran:

1. Deadline Pertama – Sabtu, 21 Maret (48 jam)

Tujuan: Trump menyebutnya "batas akhir" bagi Iran untuk membuka Selat Hormuz sepenuhnya bagi pelayaran internasional.

Respons Iran: Komando Khatam Al-Anbiya Iran mengancam akan menarget fasilitas energi dan teknologi milik Amerika Serikat dan "Israel".

2. Deadline Kedua – Senin, 23 Maret (5 hari)

Tujuan: Beberapa jam sebelum deadline 48 jam berakhir, Trump menyatakan bahwa Amerika telah melakukan pembicaraan yang "baik dan produktif" dengan Iran, dengan sejumlah poin kesepakatan yang signifikan.

Respons Iran: Tehran menolak adanya negosiasi langsung maupun tidak langsung, dan Ketua Parlemen Iran menyebut pengumuman Trump sebagai berita palsu untuk memanipulasi pasar dan melarikan diri dari krisis yang menimpa AS dan "Israel".

Selama empat hari terakhir, Washington dan Tehran saling bertukar pesan melalui mediator, dengan Amerika menawarkan proposal 15 poin untuk mengakhiri perang, sementara Iran membalas dengan proposal 5 poin.

3. Deadline Ketiga – Kamis, 26 Maret (10 hari)

Tujuan: Trump mengklaim penundaan penghancuran fasilitas energi Iran hingga 6 April atas permintaan pemerintah Iran, dan menegaskan bahwa negosiasi berjalan baik meski ada laporan yang meragukan.

Respons Iran: Tidak ada komentar resmi dari Tehran atas pengumuman Trump.

Negosiasi dan Penguatan Militer Sebelum Pengumuman

Sebelum pengumuman deadline ketiga, pejabat AS menegaskan adanya jalur negosiasi. Utusan Amerika, Steve Witkoff, menyebut ada "indikasi kuat" bahwa Iran bisa diyakinkan untuk mencapai kesepakatan, dengan proposal 15 poin yang disampaikan melalui Pakistan.

Iran, melalui Pakistan, membalas proposal tersebut dengan 5 poin, sementara negosiasi tidak langsung dilaporkan sedang berlangsung. Di sisi lain, ada laporan penambahan pasukan militer AS di wilayah tersebut, diperkirakan hingga 10 ribu tentara, termasuk Marinir dan pasukan udara dari Divisi 82.

Pasar juga menjadi faktor penting: saham AS turun tajam, mencatat kerugian terbesar sejak perang dimulai, sementara harga minyak naik karena meningkatnya ketidakpastian tentang akhir perang, memicu kekhawatiran inflasi.

Tipuan Ketiga

Bagi Iran, pengumuman deadline ketiga ini bisa dianggap sebagai "tipuan ketiga", menurut profesor studi Timur Tengah di Universitas Tehran, Hassan Ahmadian.

Ahmadian menilai, pola ini mengulang dua peristiwa sebelumnya: perang 12 hari tahun lalu setelah negosiasi, dan konflik saat ini yang diawali Amerika dan “Israel” di tengah pembicaraan dengan Washington. Ia menyimpulkan, tujuan deadline ini adalah untuk membeli waktu dan menyiapkan operasi militer besar, mengingat kekuatan militer AS sudah terkuras dalam empat minggu terakhir.

Fars News melaporkan, Iran menegaskan tidak akan menerima gencatan senjata atau jalur negosiasi dengan pihak yang melanggar janji sebelumnya.

Opsi Militer dan Satu Juta Pejuang Iran

Media Israel melaporkan, perpanjangan deadline Trump bertujuan memungkinkan masuknya pasukan darat ke Iran. Dalam pertemuan Kamis lalu, Trump menanggapi pertanyaan tentang kemungkinan menguasai minyak Iran: "Itu adalah opsi yang ada," sambil menekankan performa AS yang "sangat baik" terkait cadangan Venezuela.

Di lapangan, Pentagon menyiapkan 4 opsi untuk "serangan menentukan" jika negosiasi tidak membuahkan hasil:

  • Invasi atau pengepungan Pulau Khark, pusat ekspor minyak utama Iran.
  • Invasi Pulau Lark, penting bagi kontrol Iran atas Selat Hormuz.
  • Penguasaan Pulau Abu Musa dan dua pulau kecil di pintu masuk barat selat.
  • Penahanan atau penyitaan kapal pengangkut minyak Iran di sisi timur Selat Hormuz.

Militer AS juga menyiapkan operasi darat di wilayah Iran atau serangan udara skala besar untuk mengamankan atau menghancurkan uranium tingkat tinggi, dengan Divisi 82 siap ditempatkan di Timur Tengah.

Di sisi Iran, media menyebut lebih dari satu juta pejuang siap menghadapi konfrontasi darat dengan Amerika.

(Samirmusa/arrahmah.id)