Memuat...

The Independent: Gencatan Senjata di Gaza Jadi Kemenangan Trump dan Awal Kejatuhan Netanyahu

Samir Musa
Rabu, 15 Oktober 2025 / 24 Rabiulakhir 1447 06:53
The Independent: Gencatan Senjata di Gaza Jadi Kemenangan Trump dan Awal Kejatuhan Netanyahu
The Independent: Trump (kanan) digambarkan sebagai pembawa perdamaian, sementara Netanyahu menjadi simbol dari sebuah era yang telah berakhir. (Reuters)

LONDON (Arrahmah.id) — Harian The Independent dalam tajuk editorial terbarunya menyoroti momen gencatan senjata di Gaza dan membandingkan nasib dua tokoh yang mendominasi panggung politik belakangan ini: Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri penjajah “Israel” Benjamin Netanyahu.

Menurut surat kabar Inggris itu, momen tersebut menggambarkan Trump sebagai pemenang politik dan diplomatik, sementara Netanyahu tampil sebagai pihak yang kalah—terjebak dalam isolasi internasional dan menghadapi keruntuhan legitimasi di dalam negerinya sendiri.

Dalam editorialnya, The Independent menyebut Trump sebagai “pembawa kemenangan diplomatik” yang, melalui tekanan langsung terhadap “Israel”, berhasil memaksakan penghentian perang, memastikan pembebasan para “sandera”, dan membuka jalan bagi perjanjian baru menuju perdamaian yang lebih luas.

Sementara itu, Netanyahu digambarkan sebagai “pecundang terbesar” yang kehilangan pijakan politiknya, baik di mata dunia maupun di kalangan publiknya sendiri.

Diplomasi Paksaan Trump

Lebih lanjut, surat kabar tersebut menegaskan bahwa peristiwa terpenting bukanlah pidato penuh pameran yang disampaikan Trump dan Netanyahu di Knesset, tetapi apa yang disebutnya sebagai “diplomasi paksaan”—strategi tekanan yang membuat “Israel” akhirnya tunduk pada seruan penghentian perang, setelah tindakan militernya di Gaza dianggap tak lagi bisa ditoleransi, bahkan oleh sekutu-sekutu dekatnya.

Menurut The Independent, Washington kini sepenuhnya menggenggam kendali atas arah kebijakan “Tel Aviv”, dan kepentingan “Israel” telah disesuaikan dengan prioritas strategi Amerika di kawasan.

Surat kabar itu juga menilai bahwa rencana perdamaian Trump melampaui sekadar pertukaran tahanan, melainkan bertujuan untuk membangun kembali Gaza, memperluas Perjanjian Abraham, serta memaksakan solusi dua negara secara implisit—yang memastikan kelangsungan “Israel” tanpa memberi ruang untuk ekspansi baru.

Namun, The Independent mengingatkan agar tidak berlebihan dalam optimisme. Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa banyak kesepakatan damai di Timur Tengah runtuh meskipun dimulai dengan janji manis. Tantangan seperti pelucutan senjata Hamas dan keterlibatan Iran disebut masih menjadi persoalan kompleks yang dapat menggagalkan setiap proses perdamaian.

Netanyahu di Ujung Jalan Politiknya

Sebaliknya, Netanyahu digambarkan sebagai pemimpin yang kehabisan kartu politik. Menurut editorial itu, ia tidak menginginkan perang berakhir, melainkan berusaha memperpanjangnya demi menghindari proses pengadilan atas kasus korupsi yang menjeratnya.

The Independent menambahkan bahwa masyarakat “Israel” kini menunjukkan kemarahan yang nyata. Netanyahu disebut disambut dengan cemoohan ketika muncul di “Alun-Alun Sandera”, sebuah simbol perubahan opini publik terhadap dirinya yang dulu digambarkan sebagai “pelindung Israel”, namun kini dianggap gagal total.

Editorial tersebut menutup dengan gambaran kontras antara kedua tokoh: Trump tampil sebagai “pencipta perdamaian” karena tekanan dan kebutuhan geopolitik, sementara Netanyahu menjadi simbol berakhirnya era lama—era perang tanpa ujung dan permainan politik oportunistik.

Kini, saat Trump merayakan apa yang disebut “ronda kemenangannya”, Netanyahu justru menghadapi awal dari keruntuhan politiknya yang nyata. Menurut The Independent, “Israel” kini bukan lagi mitra sejajar Amerika Serikat, melainkan telah berubah menjadi pengikut setia dalam strategi Washington di Timur Tengah.

(Samirmusa/arrahmah.id)