Memuat...

Weizmann Institute 'Israel' Anjlok ke Peringkat 122 Dunia di Tengah Boikot Akademik

Zarah Amala
Jumat, 9 Januari 2026 / 20 Rajab 1447 10:16
Weizmann Institute 'Israel' Anjlok ke Peringkat 122 Dunia di Tengah Boikot Akademik
Institut Weizmann hancur akibat serangan Iran. (Desain: Palestine Chronicle, melalui media sosial)

TEL AVIV (Arrahmah.id) - Institut Sains Weizmann milik 'Israel' mencatat penurunan historis dalam peringkat akademik global, demikian dilaporkan Quds News Network (QNN) pada Kamis (8/1/2026).

Indeks Nature 2025 menempatkan institut tersebut di peringkat ke-111 untuk kategori institusi akademik dan ke-122 secara keseluruhan. Padahal, pada masa puncaknya, Weizmann pernah berada di peringkat ke-47 di antara institusi akademik dunia.

Penurunan tajam ini terjadi di tengah meningkatnya boikot akademik terhadap 'Israel' menyusul serangan genosida 'Israel' di Gaza. Penurunan peringkat itu juga terjadi setelah serangan rudal Iran yang menghantam institut tersebut pada Juni tahun lalu, di saat tentara pendudukan 'Israel' terus memanfaatkan fasilitasnya untuk kepentingan militer.

Peringkat Terendah Sejak 2014

Indeks Nature 2025, yang diterbitkan oleh jurnal ilmiah bergengsi Nature, menandai pertama kalinya Institut Weizmann keluar dari daftar 100 besar dunia, baik dalam kategori institusi akademik maupun peringkat institusi secara keseluruhan.

Dalam kategori akademik, Weizmann turun dari peringkat ke-75 tahun lalu menjadi ke-111. Sementara dalam peringkat keseluruhan, institut ini merosot dari posisi ke-82 menjadi ke-122.

Menurut QNN, penurunan ini mencapai lebih dari 25 persen hanya dalam satu tahun. Ini juga menjadi peringkat terendah Weizmann sejak Indeks Nature pertama kali diluncurkan pada 2014. Pada 2017, institut ini masih berada di peringkat ke-54 secara keseluruhan dan ke-47 di kategori akademik. Sejak itu, trennya terus menurun.

Kaitan dengan Riset Nuklir

Tahun lalu, mencuat tuduhan bahwa Institut Sains Weizmann, yang rusak akibat serangan rudal Iran, memiliki keterkaitan dengan riset nuklir dan proyek-proyek militer, sebagaimana dilaporkan kantor berita Anadolu.

Situs berita 'Israel' Ynet News melaporkan bahwa dua gedung riset hancur total dan 112 bangunan lainnya rusak, termasuk 60 laboratorium.

Penurunan ini tidak hanya dialami Weizmann, tetapi juga berdampak luas pada dunia akademik Israel. Sejumlah universitas melaporkan penurunan output riset. Universitas Ibrani di Yerusalem yang diduduki turun dari peringkat ke-119 ke posisi 144, Technion di Haifa merosot dari 178 ke 194, dan Universitas Ben-Gurion di Negev turun dari 296 ke 301.

Peran dalam Pendudukan

QNN melaporkan bahwa universitas-universitas 'Israel' berperan aktif dalam genosida yang sedang berlangsung terhadap rakyat Palestina. Mereka menyediakan program akademik khusus bagi tentara dan perwira, termasuk kurikulum yang disusun melalui kerja sama langsung dengan militer 'Israel'.

Selain kegiatan pengajaran, universitas-universitas tersebut juga disebut “berkontribusi langsung terhadap inovasi militer” dengan mendirikan pusat riset militer yang berfokus pada pengembangan teknologi tempur, termasuk sistem untuk mengurangi kebisingan drone serta meningkatkan kemampuan pengintaian dan serangan.

Institusi-institusi ini juga terlibat dalam perancangan dan produksi teknologi militer yang dipasok ke tentara 'Israel' dan diekspor ke berbagai negara, sehingga sektor akademik tertanam langsung dalam industri persenjataan global. (zarahamala/arrahmah.id)