KURDISTAN (Arrahmah.id) -- Milisi sosialis Kurdi, Partai Pekerja Kurdistan (PKK), membakar senjata mereka dalam proses pelucutan senjata yang ditujukan untuk mengakhiri pemberontakan terlama di Timur Tengah.
Dilansir Hurriyet (11/7/2025), dalam sebuah seremoni di wilayah otonom Kurdi di Irak, para milisi nampak melucuti senjata dan mengumpulkannya dalam satu tempat disaksikan perwakilan dari Turki, pemerintah pusat Irak, serta Pemerintah Daerah Kurdistan (KRG).
Penyerahan ini menjadi langkah konkret pertama menuju pelucutan senjata sejak pengumuman PKK pada Mei lalu bahwa mereka akan membubarkan diri. Keputusan ini mengakhiri konflik selama empat dekade dengan negara Turki dan diharapkan dapat meredakan kekhawatiran keamanan di kawasan.
Perdamaian juga berpotensi mendongkrak ekonomi Turki. Para pembuat kebijakan menyebut konflik ini telah merugikan negara sekitar US$1,8 triliun, termasuk dari potensi ekonomi yang hilang akibat alokasi belanja militer.
Namun, masih belum jelas apakah semua milisi PKK akan ikut serta dalam proses ini. Pemerintah Turki menyerukan agar proses pelucutan senjata tidak memakan waktu lebih dari lima bulan.
Dalam sebuah pesan video yang dirilis Rabu (10/7), pemimpin PKK yang saat ini dipenjara, Abdullah Ocalan, menyebut proses ini sebagai “transisi dari fase konflik bersenjata menuju fase politik demokratis dan hukum.” Ocalan telah menjalani hukuman penjara seumur hidup dalam sel isolasi di Pulau Imrali sejak 1999.
PKK, yang mulai mengangkat senjata pada 1984 dengan tujuan memperjuangkan otonomi Kurdi, telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Turki, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Konflik ini telah menewaskan lebih dari 40.000 orang, dengan kekerasan yang kadang meluas ke wilayah Irak, Suriah, dan Iran. (hanoum/arrahmah.id)
