GAZA (Arrahmah.id) - Sistem pengeras suara di empat bandara di Amerika Utara diretas pada Selasa (14/10/2025) dan digunakan untuk menyiarkan pesan-pesan yang memuji Hamas serta mengkritik Presiden Donald Trump, menurut pejabat bandara.
Serangan siber tersebut, yang juga menargetkan layar informasi penerbangan, sempat mengganggu layanan dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan penumpang di Amerika Serikat dan Kanada.
Serangan itu terjadi di Bandara Internasional Harrisburg di Pennsylvania (AS), Bandara Internasional Windsor di Ontario (Kanada), serta Bandara Internasional Kelowna dan Bandara Internasional Victoria di British Columbia, kata para pejabat.
Di Bandara Harrisburg, video yang beredar di media sosial menunjukkan momen saat peretasan terjadi. Suara perempuan terdengar melalui pengeras suara menyerukan “Bebaskan Palestina,” disertai sumpah serapah terhadap Trump dan Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu. Suara itu juga mengatakan, “Peretas Turki Cyber Islam ada di sini.”
“Momen ini benar-benar tidak dapat diterima dan secara wajar membuat penumpang ketakutan,” tulis Menteri Transportasi AS Sean Duffy di media sosial. Ia mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Administrasi Penerbangan Federal (FAA) dan otoritas Bandara Harrisburg untuk menyelidiki insiden tersebut.
Transport Canada, lembaga yang mengawasi dan mengoperasikan bandara di Kanada, menyatakan tengah melakukan penyelidikan bersama aparat penegak hukum untuk memastikan tidak ada dampak terhadap keselamatan dan keamanan operasional bandara.
Secara keseluruhan, pihak bandara melaporkan gangguan yang terjadi bersifat ringan. Juru bicara Bandara Harrisburg, Scott Miller, mengatakan kepada stasiun WGAL-TV bahwa satu pesawat yang tengah proses naik penumpang sempat diperiksa, tetapi tidak ditemukan ancaman keamanan.
Serangan siber di Kanada tampak lebih jauh menjangkau, karena juga menargetkan layar informasi penerbangan dengan pesan pro-Hamas.
“Tulisannya di layar: ‘Israel kalah perang, Hamas menang dengan terhormat’,” menurut video dari Bandara Internasional Kelowna yang beredar di dunia maya dan telah dikonfirmasi oleh perwakilan bandara.
Dalam pernyataannya, pihak bandara mengatakan sistem layar informasi penerbangan dan sistem suara publik telah diretas oleh pihak luar untuk menampilkan “pesan yang tidak sah.”
Bandara menambahkan bahwa pesan tersebut berhasil dihapus dalam hitungan menit, dan insiden itu hanya memengaruhi “penyedia perangkat lunak berbasis cloud dari pihak ketiga.”
Mark Phillips, konsultan keamanan di perusahaan Dionac yang menyediakan layanan keamanan siber untuk sektor penerbangan, mengatakan bahwa bandara semakin bergantung pada sistem berbasis cloud dari penyedia eksternal untuk mengelola sistem check-in, pengumuman publik, hingga tampilan jadwal penerbangan.
“Jadi jika peretas berhasil menembus akun karyawan dari perusahaan penyedia layanan tersebut,” jelas Phillips, “mereka bisa menjalankan fungsi manajemen seperti operator resmi.”
Dalam kasus ini, kata Phillips, kemungkinan besar peretas berhasil mengakses sistem penyedia layanan cloud, mengunggah file audio dan video, lalu memutarnya di sistem bandara.
Namun, ia menegaskan bahwa penumpang tidak perlu terlalu khawatir. “Sistem yang benar-benar krusial bagi keselamatan, seperti pengendalian lalu lintas udara, tidak dikelola pihak ketiga dan tidak memiliki akses jarak jauh,” ujarnya. Sistem-sistem itu, tambahnya, umumnya terisolasi sepenuhnya dari jaringan bandara lainnya.
Bandara Internasional Kelowna menyebutkan bahwa sistem mereka memang terpisah dari jaringan lain, dan setelah melakukan penilaian risiko bersama Kepolisian Kanada (RCMP) serta Transport Canada, mereka memastikan pesan tersebut bukan “ancaman langsung terhadap keselamatan publik.”
Sementara itu, Bandara Internasional Windsor mengatakan tidak terjadi gangguan berarti karena tidak ada penerbangan yang dijadwalkan saat serangan terjadi.
Peretasan ini merupakan insiden terbaru dari rangkaian serangan siber yang menargetkan bandara besar dalam beberapa bulan terakhir. Bulan lalu, serangan serupa mengganggu perjalanan di beberapa bandara besar Eropa, termasuk Bandara Heathrow di London. (zarahamala/arrahmah.id)
