Memuat...

Beijing dan Tashkent Fokus pada Keamanan dan Perekonomian Afghanistan

Hanin Mazaya
Ahad, 23 November 2025 / 3 Jumadilakhir 1447 16:45
Beijing dan Tashkent Fokus pada Keamanan dan Perekonomian Afghanistan
(Foto: Tolo News)

TASHKENT (Arrahmah.id) - Presiden Uzbekistan dan Menteri Luar Negeri Cina mengadakan pembicaraan mengenai isu-isu terkait Afghanistan.

Menurut pernyataan yang dirilis oleh kantor Presiden Uzbekistan, Shavkat Mirziyoyev, kedua belah pihak menekankan perlunya "dialog politik yang erat" dan kerja sama yang berkelanjutan melalui "kerangka kerja multilateral" dengan Afghanistan.

Analis politik Zalmai Afghanyar mengatakan: "Fakta bahwa Presiden Uzbekistan dan Menteri Luar Negeri Cina membahas keterlibatan Afghanistan dengan dunia berakar pada realitas nyata."

Menurut pernyataan tersebut, mereka juga memberikan perhatian khusus pada koordinasi terkait masalah keamanan, sosial, dan ekonomi Afghanistan, lansir Tolo News (22/11/2025).

Pernyataan kantor presiden mencatat: "Perhatian khusus diberikan pada koordinasi terkait isu-isu pemulihan sosial-ekonomi dan keamanan Afghanistan. Perlunya melanjutkan dialog politik yang erat dan kerja sama dalam format multilateral disoroti, bersama dengan dukungan terhadap kemitraan antaruniversitas, proyek-proyek penanggulangan kemiskinan, pengembangan pariwisata, dan bidang-bidang lainnya."

Presiden Mirziyoyev sebelumnya telah menulis bahwa Afghanistan tidak berada di pinggiran, tetapi menurutnya merupakan bagian integral dan tak terpisahkan dari kawasan tersebut.

Analis politik Samiullah Ahmadzai mengatakan: "Negara-negara ini berinteraksi dengan Imarah Islam berdasarkan kepentingan mereka sendiri. Cina adalah salah satu negara yang memiliki hubungan luas dengan Imarah Islam, tetapi belum mengakuinya secara resmi."

Uzbekistan dan Cina termasuk di antara negara-negara yang melanjutkan hubungan dengan Kabul setelah Imarah Islam kembali berkuasa. Saat ini terdapat duta besar Imarah Islam Afghanistan yang ditempatkan di kedua negara, namun pemerintah Imarah Islam Afghanistan tetap tidak diakui oleh mereka. (haninmazaya/arrahmah.id)