GAZA (Arrahmah.id) - Seorang jurnalis investigasi 'Israel', Yuval Abraham, mengungkap bahwa intelijen militer 'Israel' (AMAN) membentuk unit khusus bernama “Legitimization Cell” setelah serangan 7 Oktober 2023. Unit ini bertugas mencari pembenaran atas serangan militer di Gaza, termasuk pembunuhan jurnalis.
Melalui unggahan di X pada Senin (11/8/2025), Abraham menjelaskan bahwa personel intelijen mengumpulkan data untuk memberikan “legitimasi” terhadap aksi-aksi militer di Gaza. Data yang dicari termasuk tuduhan peluncuran roket gagal oleh Hamas, penggunaan tameng manusia, hingga eksploitasi warga sipil.
“Salah satu misi utama Legitimization Cell adalah menemukan jurnalis Gaza yang bisa digambarkan di media sebagai anggota Hamas yang menyamar. Mereka mencari secara aktif, tapi tidak menemukan apa pun,” kata Abraham.
Menurutnya, mengidentifikasi seorang jurnalis sebagai militan adalah cara untuk “memutihkan” pembunuhan jurnalis lainnya. Abraham bahkan menegaskan bahwa 'Israel' mengakui target serangan tenda pers di luar Rumah Sakit al-Shifa adalah jurnalis Al Jazeera, Anas asy Syarif.
Eksekusi Terencana
Abraham mempertanyakan alasan pembunuhan asy Syarif saat lokasinya sudah diketahui selama berbulan-bulan. “Mengapa membunuhnya sekarang? Jelas, 'Israel' membunuh Anas asy Syarif hanya karena dia seorang jurnalis,” ujarnya.
Ia menambahkan, pencarian data tersebut bertujuan memberi pembenaran bagi pembunuhan jurnalis secara umum. “Dan alasan yang sama mengapa media internasional dilarang masuk Gaza: agar kejahatan ini semakin sedikit terlihat,” katanya.
Data terbaru menunjukkan pembunuhan asy Syarif dan lima jurnalis lainnya membuat total jurnalis gugur dalam agresi 'Israel' sejak Oktober 2023 mencapai 238 orang.
Peringatan ‘Pembantaian Besar’
Direktur Rumah Sakit al-Shifa, Dr. Mohammed Abu Salmiya, memperingatkan bahwa pembunuhan jurnalis dilakukan untuk memuluskan rencana “pembantaian besar” yang tak akan terekam media.
“Pendudukan ingin membunuh dan mengusir sebanyak mungkin warga Gaza City tanpa suara Anas, Mohammed, dan jurnalis lainnya,” katanya.
Anas asy Syarif sebelumnya telah memperingatkan adanya kampanye ancaman terhadap dirinya akibat liputan untuk Al Jazeera. “Saya tidak memiliki afiliasi politik. Satu-satunya misi saya adalah melaporkan kebenaran dari lapangan,” tulisnya di X bulan lalu.
Pembunuhan ini menuai kecaman internasional dan duka mendalam dari komunitas jurnalis di seluruh dunia. (zarahamala/arrahmah.id)
