DOHA (Arrahmah.id) – Sebuah sumber pimpinan di Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) mengungkap kepada Al Jazeera bahwa delegasi pimpinan Hamas yang dipimpin Khalil al-Hayya selamat dari upaya pembunuhan oleh "Israel" dalam serangan udara yang mengguncang ibu kota Qatar, Doha, pada Selasa (9/9).
Menurut sumber tersebut, serangan "Israel" itu terjadi ketika delegasi Hamas sedang mengadakan pertemuan internal untuk membahas proposal terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait gencatan senjata di Jalur Gaza.
Kementerian Luar Negeri Qatar dalam pernyataannya mengecam keras serangan itu. “Kami mengutuk serangan pengecut ‘Israel’ yang menargetkan tempat tinggal sejumlah anggota Biro Politik Hamas di Doha,” tegas Kemenlu Qatar.
Pernyataan itu menambahkan bahwa serangan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap semua hukum internasional, sekaligus ancaman nyata terhadap keamanan dan keselamatan warga Qatar maupun para penduduk asing di negara itu. Qatar juga menegaskan tidak akan tinggal diam terhadap tindakan “Israel” yang dinilainya sembrono dan berbahaya.
Asap tebal membumbung di langit Doha setelah serangan "Israel" (Al Jazeera)
Klaim "Israel"
Militer “Israel” dalam pernyataannya mengaku bahwa angkatan udaranya telah melakukan “serangan presisi” terhadap pimpinan Hamas, dalam operasi bersama dengan badan intelijen dalam negeri, Shin Bet.
Menurut keterangan itu, tokoh-tokoh yang menjadi sasaran disebut telah memimpin aktivitas Hamas selama bertahun-tahun.
Media “Israel” turut memberitakan serangan tersebut. Kanal 14 melaporkan bahwa target serangan mencakup Khalil al-Hayya dan Zahir Jabarin, sementara Kanal 12 menambahkan nama Khaled Meshaal sebagai salah satu tokoh yang dibidik.
Seorang pejabat “Israel” yang dikutip Kanal 14 menyebut pihaknya masih menunggu hasil operasi, seraya menegaskan bahwa serangan dilakukan menggunakan jet tempur.
Ledakan keras terdengar di ibu kota Qatar itu pada sore hari, dengan asap hitam pekat membumbung tinggi di langit Doha.
(Samirmusa/arrahmah id)
