TEHERAN (Arrahmah.id) -- Pemimpin tertinggi Iran pada Sabtu (3/1/2026) untuk pertama kalinya buka suara terkait gelombang protes yang telah mengguncang republik itu selama sepekan. Pernyataannya dinilai sebagai sinyal lampu hijau bagi aparat keamanan untuk menindak demonstrasi secara agresif.
Komentar pertama Ayatullah Ali Khamenei (86) muncul ketika kekerasan terkait demonstrasi yang dipicu oleh kondisi ekonomi Iran yang memburuk telah menewaskan sedikitnya 10 orang.
Protes tersebut belum menunjukkan tanda-tanda mereda dan terjadi setelah Presiden Donald Trump pada Jumat memperingatkan Iran bahwa jika Teheran membunuh secara kejam para pengunjuk rasa damai, Amerika Serikat (AS) akan datang untuk menyelamatkan mereka, lapor Associated Press (3/1).
Meski masih belum jelas bagaimana dan apakah Trump akan benar-benar melakukan intervensi, pernyataannya memicu reaksi keras dan cepat. Para pejabat Iran mengancam akan menargetkan pasukan AS di kawasan Timur Tengah.
Protes kali ini menjadi yang terbesar di Iran sejak tahun 2022, ketika kematian Mahsa Amini yang berusia 22 tahun dalam tahanan polisi memicu demonstrasi nasional. Namun demikian, gelombang protes saat ini belum seluas dan seintens demonstrasi terkait kematian Amini, yang ditahan karena tidak mengenakan hijab atau penutup kepala sesuai ketentuan otoritas.
Khamenei dalam pernyataannya disebut berusaha memisahkan antara warga Iran yang memprotes runtuhnya nilai rial dengan apa yang ia sebut sebagai "perusuh".
"Kami berbicara kepada para pengunjuk rasa, para pejabat harus berbicara dengan mereka," ungkap Khamenei. "Namun tidak ada manfaatnya berbicara dengan para perusuh. Para perusuh harus ditempatkan pada tempatnya."
Ia kembali mengulang klaim yang terus disampaikan para pejabat Iran bahwa kekuatan asing seperti Israel atau AS berada di balik protes, tanpa memberikan bukti apa pun. Ia juga menyalahkan "musuh" atas anjloknya nilai rial Iran.
"Sekelompok orang yang dihasut atau disewa oleh musuh berada di belakang para pedagang dan pemilik toko serta meneriakkan slogan-slogan melawan Islam, Iran, dan Republik Islam," ujarnya. "Inilah yang paling penting."
Iran memiliki pasukan paramiliter Garda Revolusi yang mencakup pasukan relawan Basij. Anggota Basij, yang kerap beroperasi menggunakan sepeda motor, dikenal pernah menindak keras berbagai demonstrasi, seperti Gerakan Hijau pada 2009 dan gelombang protes pada 2022. Garda Revolusi sendiri hanya bertanggung jawab langsung kepada Khamenei.
Para pejabat garis keras di dalam negeri diyakini telah mendorong respons yang lebih agresif terhadap demonstrasi, sementara Presiden Masoud Pezeshkian berupaya melakukan dialog untuk merespons tuntutan para pengunjuk rasa.
Penindakan berdarah kerap menyusul protes semacam ini. Protes akibat kenaikan harga bensin pada tahun 2019 dilaporkan menewaskan lebih dari 300 orang. Penindakan terhadap protes Amini pada 2022, yang berlangsung selama berbulan-bulan, menewaskan lebih dari 500 orang dan menyebabkan lebih dari 22.000 orang ditahan.
"Iran tidak memiliki oposisi domestik yang terorganisasi; para pengunjuk rasa kemungkinan bertindak secara spontan," kata Eurasia Group dalam analisis pada Jumat. "Meskipun protes dapat berlanjut atau membesar (terutama karena prospek ekonomi Iran tetap suram), rezim memiliki aparat keamanan yang besar dan kemungkinan akan menekan perbedaan pendapat tersebut tanpa kehilangan kendali atas negara." (hanoum/arrahmah.id)
