Memuat...

Din Syamsuddin di Wonosobo: Saatnya Hijrah dari Budaya Bobrok ke Budaya Mabruk

Samir Musa
Selasa, 1 Juli 2025 / 6 Muharam 1447 14:53
Din Syamsuddin di Wonosobo: Saatnya Hijrah dari Budaya Bobrok ke Budaya Mabruk
Din Syamsuddin di Wonosobo: Saatnya Hijrah dari Budaya Bobrok ke Budaya Mabruk

WONOSOBO (Arrahmah.id) — Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, menyerukan umat Islam dan bangsa Indonesia untuk berhijrah dari budaya bobrok menuju budaya mabruk. Seruan itu disampaikannya dalam ceramah pada peringatan Tahun Baru Islam 1447 Hijriyah yang digelar di Dusun Deles, Desa Lumajang, Kecamatan Watumalang, Wonosobo, Sabtu (29/6/2025).

Acara yang diinisiasi oleh Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Dusun Deles ini diikuti lebih dari 4.000 jamaah. Mereka memadati lapangan sepak bola yang berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, dikelilingi perbukitan indah dekat dataran tinggi Dieng.

Tampak hadir Kepala Dinas PUPR mewakili Bupati Wonosobo, sejumlah ulama, serta tokoh-tokoh dari berbagai ormas Islam seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Dewan Masjid Indonesia, Aisyiyah, dan Muslimat NU.

Din Syamsuddin mengapresiasi inisiatif masyarakat Dusun Deles yang tetap memeriahkan Tahun Baru Hijriyah, meskipun secara umum peringatannya kalah semarak dibanding Tahun Baru Masehi atau Imlek. Ia menilai sudah saatnya umat Islam menjadikan momen hijrah sebagai momentum perbaikan menyeluruh.

“Budaya bobrok yang ditandai oleh maraknya korupsi, kolusi, kebohongan, ketidakadilan, kekerasan, dan bentuk-bentuk kezaliman lainnya telah menciptakan malapetaka nasional,” tegas Din. “Kalau ini tidak segera diatasi, Indonesia bisa menjadi negara gagal, sebagaimana pernah disinyalir Jenderal (Purn) Prabowo Subianto pada tahun 2018.”

Din menekankan bahwa umat Islam tidak boleh diam terhadap kemungkaran. Peringatan Tahun Baru Hijriyah, menurutnya, harus dijadikan sarana untuk Hijrah Ruhaniah — perubahan batin dan moral — bukan sekadar slogan kosong seperti "Revolusi Mental" yang akhirnya hanya jadi jargon tanpa realisasi.

Ia mengajak umat Islam dan bangsa Indonesia untuk meninggalkan perilaku bobrok dan menggantinya dengan nilai-nilai mabruk seperti kejujuran, keadilan, kerja keras, kerja sama, serta menjauhi keserakahan dan pengumpulan harta secara tidak sah.

"Budaya mabruk adalah budaya yang menghimpun dan mendayagunakan kebaikan di sekitar kita, hingga Allah SWT menambahkan kebaikan-Nya," jelas Din. “Kemabrukan adalah bertemunya dua kebaikan: kebaikan dari Allah dan kebaikan karena kita menjalankan ajaran-Nya.”

Din juga menyerukan pentingnya persatuan umat Islam, khususnya kerja sama antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Ia menyinggung pentingnya menjauhi perpecahan akibat perbedaan dalam masalah cabang (furu’iyah) agama.

“Saya bersyukur dan berbangga dengan kebersamaan umat Islam lintas organisasi di Dusun Deles ini. Saya terharu kegiatan ini dikawal oleh Kokam Pemuda Muhammadiyah dan Banser GP Ansor. Bahkan saat saya memasuki Dusun Deles, saya disambut oleh jip Banser dan Kokam,” ungkap Din penuh haru.

Menurutnya, semangat kebersamaan yang tercermin di Dusun Deles ini layak menjadi teladan bagi daerah lain dalam membangun ukhuwah dan memperkuat barisan umat.

(Samirmusa/arrahmah.id)