Memuat...

Empat Dekade Permusuhan, Jalan Iran dan "Israel" dari Aliansi Menuju Perang

Hanin Mazaya
Selasa, 17 Juni 2025 / 21 Zulhijah 1446 20:31
Empat Dekade Permusuhan, Jalan Iran dan "Israel" dari Aliansi Menuju Perang
(Foto: Tolo News)

(Arrahmah.id) — Ketegangan yang meningkat antara Iran dan "Israel", yang ditandai dengan gejolak politik, militer, dan diplomatik selama empat dekade terakhir, kini telah memasuki fase kritis dan belum pernah terjadi sebelumnya.

Sebuah tinjauan terhadap sejarah hubungan kedua negara ini mengungkapkan bahwa perselisihan yang mengakar dan konflik yang terus berulang tidak hanya membentuk dinamika bilateral, namun juga berdampak pada keamanan dan stabilitas di seluruh kawasan Timur Tengah.

Setelah pendirian "Israel" pada 1948 yang mencaplok wilayah Palestina, Iran menjadi negara mayoritas Muslim kedua—setelah Turki—yang secara resmi mengakuinya pada 1950. Selama periode tersebut, kedua negara memperluas kerja sama di bidang ekonomi dan militer, yang berpuncak pada inisiatif pengembangan rudal balistik bersama pada 1977.

Mohammad Akram Arefi, seorang profesor universitas, menyatakan: “Setelah berdirinya rezim 'Islam' di Iran, yang didasarkan pada ideologi dan nilai-nilai agama, ada rasa kewajiban yang kuat untuk mendukung rakyat Palestina dan tanah suci umat Islam, yaitu Yerusalem," lansir Tolo News (17/6/2025).


Revolusi 1979 dan Pergeseran Kebijakan

Dengan Revolusi pada 1979 dan berdirinya Republik Islam Iran, hubungan bilateral benar-benar terputus. Pemerintah Iran yang baru tidak hanya menarik pengakuan terhadap "Israel", tetapi juga mengubah kedutaan besar "Israel" menjadi Kedutaan Besar Palestina.

Sejak awal 1980-an dan seterusnya, Iran dan "Israel" memasuki fase konfrontasi tidak langsung. Iran mengejar pengaruh regional, mendukung kelompok-kelompok anti-Israel seperti Hizbullah dan Hamas, mencegah potensi serangan militer "Israel" atau Amerika Serikat, dan bahkan menyerukan penghapusan "Israel" dari peta. Sebaliknya, "Israel" berfokus pada upaya melawan pengaruh Iran, melemahkan kelompok-kelompok yang didukung Iran, serta membongkar kemampuan nuklir Iran dan jaringan militer terkait.

Sementara itu, Iran secara konsisten menyatakan bahwa mereka tidak mencari senjata nuklir.


Tujuan Kedua Negara

Tujuan Iran:

  • Memperluas pengaruh regional
  • Mendukung “Poros Perlawanan”
  • Mendukung kelompok-kelompok seperti Hizbullah dan Hamas
  • Menghalangi agresi militer dari "Israel" atau AS
  • Pada akhirnya, menghilangkan "Israel" dari peta global

Tujuan Israel:

  • Mencegah ekspansi regional Iran
  • Melemahkan kelompok-kelompok proksi Iran
  • Menghancurkan program nuklir dan infrastruktur militer Iran

Reza Talebi, seorang jurnalis dan peneliti, mengatakan: “Apa yang telah kita saksikan setelah Revolusi Islam di luar masalah Gaza adalah bahwa intervensi Iran di negara-negara seperti Suriah dan ambisi nuklirnya telah meningkatkan krisis hingga ke titik di mana 'Israel' melancarkan serangan ke Iran, dan Iran membalas.”


Peningkatan Ketegangan Pasca-2005

Pada 2005, setelah Mahmoud Ahmadinejad naik ke tampuk kekuasaan di Iran, ketegangan semakin meningkat. Pada 4 November 2009, "Israel" mencegat pengiriman senjata—yang diduga dalam perjalanan dari Iran ke Hizbullah—di Laut Mediterania. Pada 2010, beberapa ilmuwan nuklir Iran dibunuh.

Ilmuwan nuklir Iran yang dibunuh:

  • Ali Mohammadi
  • Majid Shahriari
  • Fereydoun Abbasi
  • Dariush Rezainejad
  • Mostafa Ahmadi Roshan

Rahmatullah Beijanpoor, seorang analis politik, mengatakan: "Israel telah bertindak sebagai proksi untuk Amerika Serikat dan selalu menyuarakan sikapnya. Oleh karena itu, ini bukan hanya dua kebijakan, tetapi dua paradigma yang secara fundamental berlawanan."


Saling Mendukung Kelompok Proksi

Selama bertahun-tahun, Iran telah memberikan dukungan substansial kepada kelompok-kelompok seperti Hizbullah, Hamas, dan Jihad Islam Palestina. Sebaliknya, "Israel" telah mendukung kelompok oposisi Iran MEK (Mujahedin-e-Khalq) dan secara langsung terlibat dalam pembunuhan serta serangan yang ditargetkan terhadap entitas-entitas yang terkait dengan Iran.

Ruhollah Hotak, seorang analis politik, mengatakan: "Kelompok-kelompok yang didanai oleh Iran telah terlibat langsung dalam pertempuran dengan 'Israel'. Hamas dan yang lainnya bertempur di Gaza untuk mempertahankan tanah dan kehormatan mereka. Banyak pemimpin mereka yang kembali ke Teheran, di mana mereka akhirnya gugur sebagai syuhada."


Konfrontasi Langsung dalam Beberapa Tahun Terakhir

  • 27 September 2024: Pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, terbunuh dalam serangan udara "Israel" di Beirut.
  • 31 Juli 2024: Kepala biro politik Hamas, Ismail Haniyeh, dibunuh oleh "Israel" di Teheran.

Peristiwa ini menandai eskalasi yang signifikan dalam konfrontasi langsung.

Obaidullah Sadeq, seorang analis politik, berkomentar: “Satu-satunya negara yang telah berdiri melawan rezim Zionis dan 'Israel' untuk membela rakyat Palestina adalah Iran—dan Iran terus melakukannya.”

Namun, pada 13 Juni 2025, "Israel" melancarkan serangan terkoordinasi ke 12 kota besar Iran, termasuk Teheran, Natanz, Tabriz, dan Shiraz. Serangan ini menargetkan instalasi nuklir, rudal, dan militer, kediaman resmi, dan bahkan daerah sipil. Sebagai pembalasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke "Israel".

(haninmazaya/arrahmah.id)