Memuat...

Faksi Palestina Kecam Serangan 'Israel' di Beirut: Lima Tewas, 28 Terluka

Zarah Amala
Senin, 24 November 2025 / 4 Jumadilakhir 1447 11:05
Faksi Palestina Kecam Serangan 'Israel' di Beirut: Lima Tewas, 28 Terluka
Serangan udara 'Israel' menargetkan komandan senior Hizbullah Abu Ali Tabatabai (Getty)

BEIRUT (Arrahmah.id) - Faksi-faksi Palestina mengecam serangan udara 'Israel' yang pada Ahad (23/11/2025) menghantam kawasan pemukiman padat penduduk di pinggiran selatan Beirut, menewaskan lima orang dan melukai 28 lainnya. Mereka menyebut serangan itu sebagai kejahatan perang dan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Lebanon.

Militer 'Israel' mengumumkan bahwa mereka telah membunuh Haitham Ali al-Tabtabai, yang diklaim menjabat sebagai Kepala Staf Hizbullah. Media 'Israel' menyebut operasi tersebut dilakukan dengan koordinasi Amerika Serikat, meski terdapat perbedaan keterangan mengenai waktu koordinasi itu dilakukan.

Gerakan Perlawanan Islam Hamas menggambarkan serangan tersebut sebagai “agresi pengecut” yang bertujuan menyeret Lebanon dan kawasan menuju konfrontasi baru. Sementara Jihad Islam Palestina menegaskan bahwa menyerang area sipil merupakan “kejahatan perang” dan bentuk eskalasi berbahaya.

Adapun Gerakan Mujahidin, Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP), dan Lajnah Perlawanan menilai serangan itu sebagai pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata dan bukti koordinasi Amerika–'Israel' untuk memberlakukan “aturan pertempuran baru” di Lebanon.

Presiden Lebanon Joseph Aoun mengatakan bahwa serangan terhadap Dahieh pada hari peringatan kemerdekaan menunjukkan bahwa 'Israel' “tidak peduli” terhadap seruan untuk menghentikan agresinya. Seorang pejabat Hizbullah menegaskan bahwa serangan tersebut memang menargetkan “tokoh militer penting” dan bahwa respons masih dalam pembahasan.

Serangan ini terjadi di tengah eskalasi yang terus berlangsung sejak Oktober tahun lalu, ketika 'Israel' meningkatkan serangannya di Lebanon meski ada perjanjian gencatan senjata. Sejumlah laporan menyebut 'Israel' tengah mempersiapkan serangan baru terhadap negara itu.

Perjanjian gencatan senjata tersebut mengakhiri agresi yang dilancarkan 'Israel' terhadap Lebanon pada Oktober 2023, yang kemudian berubah menjadi perang besar pada September 2024. Konflik itu menewaskan lebih dari 4.000 orang dan melukai sekitar 17.000 lainnya.

Selama perang tersebut, 'Israel' menduduki lima bukit strategis di Lebanon selatan. Perjanjian gencatan senjata mengharuskan 'Israel' mundur dalam waktu 60 hari, namun hingga kini 'Israel' mengingkari kewajibannya, dan bahkan masih menduduki wilayah Lebanon lainnya sejak puluhan tahun lalu. (zarahamala/arrahmah.id)