Memuat...

Friedman: Trump Bangun “Kesepakatan Gaza” dari Gl Ambiguity dan Bergerak Tanpa Rem

Samir Musa
Jumat, 21 November 2025 / 1 Jumadilakhir 1447 08:12
Friedman: Trump Bangun “Kesepakatan Gaza” dari Gl Ambiguity dan Bergerak Tanpa Rem
Thomas Friedman saat wawancara bersama Aljazeera.

QATAR (Arrahmah.id) — Pengamat politik Amerika Serikat Thomas Friedman menilai masa jabatan kedua Presiden AS Donald Trump kini berbeda secara mendasar dari periode pertamanya. Menurutnya, Trump saat ini dikelilingi oleh tim yang “membesarkan dan memperkuat gagasannya, bukan menahan atau mengoreksinya”.

Dalam wawancara bersama program Min Washington, Al Jazeera. Friedman menjelaskan bahwa Trump pada masa jabatan pertamanya masih memiliki para penasihat yang berfungsi sebagai penyaring, sehingga ide-ide yang ekstrem dapat diredam atau dikaji terlebih dahulu. “Dulu, jika ia mendengar ide liar seperti mengeluarkan warga Palestina dari Gaza, kepala stafnya akan langsung meminta kajian mendalam sebelum bicara apa pun,” ujarnya.

Namun, pada masa jabatan kedua ini, “Trump langsung membawa ide apa pun ke Gedung Putih dan menemui tim yang justru membesarkan gagasan tersebut,” kata Friedman. Menurutnya, ide tersebut kemudian ditransformasikan menjadi kebijakan resmi tanpa peninjauan matang.

Kebijakan ‘Khusus’ Trump

Friedman menggambarkan Trump sebagai pemimpin yang beroperasi dengan gaya pribadi yang sulit diprediksi, tetapi dalam beberapa situasi mampu menghasilkan terobosan politik yang tak mungkin dilakukan presiden sebelumnya. Salah satu contohnya adalah keterlibatan menantunya, Jared Kushner, yang diberi ruang untuk berkomunikasi langsung dengan Hamas demi kesepakatan gencatan senjata di Gaza.

Pada 29 September 2025, Trump mengumumkan apa yang ia sebut “Rencana Perdamaian” untuk Gaza yang berisi 20 butir, mencakup pembebasan tawanan dari pihak “Israel”, penghentian pertempuran, hingga pelucutan senjata Hamas. Tahap pertama dari rencana ini disepakati pada 9 Oktober 2025.

Friedman menyebut keberhasilan mencapai tahap pertama sebagai pencapaian penting, namun ia menegaskan bahwa tahap itu dibangun di atas “gl ambiguity” atau ketidakjelasan yang disengaja. “Setiap pihak menerima interpretasinya sendiri tentang kesepakatan tersebut,” ujarnya.

Meski gencatan senjata mulai berlaku 10 Oktober 2025, pelanggaran dari pihak “Israel” terus terjadi dengan intensitas tinggi, menyebabkan lebih dari 250 warga Palestina gugur.

Friedman mengingatkan bahwa keberlanjutan rencana Trump sangat bergantung pada kemampuan Amerika Serikat menahan tindakan agresif “Israel”, agar proses menuju tahap kedua — yang mencakup jalan menuju Negara Palestina — tidak runtuh. “Tahap berikutnya memerlukan kejelasan dan kompromi besar dari dua pihak. Saya ragu Trump akan konsisten mengawal itu,” tegasnya.

Amerika dan Orientasi Baru di Timur Tengah

Dalam penjelasannya, Friedman menolak anggapan bahwa Washington telah meninggalkan kawasan Timur Tengah. Ia mengungkapkan bahwa dalam pandangan strategis AS, kawasan tersebut terbagi menjadi tiga kategori:

  1. “Israel” sebagai sekutu strategis utama
  2. Negara-negara Arab sahabat seperti Qatar, UEA, Arab Saudi, Maroko, dan Mesir
  3. Kelompok-kelompok kekerasan

Ia menekankan bahwa orientasi kemitraan AS kini bergeser dari Yordania dan Mesir menuju negara-negara Teluk. Friedman juga meyakini bahwa jika ada kesempatan terobosan besar menuju perdamaian antara “Israel”, Palestina, dan negara-negara sekitar, pemerintahan Trump akan langsung bergerak untuk “membuat sejarah”.

Dalam pandangannya, perdamaian sejati memerlukan perubahan kepemimpinan di tiga tempat: Teheran, Tel Aviv, dan Otoritas Palestina. “Pemimpin yang berbeda di tiga titik ini akan menghasilkan perdamaian yang berbeda,” kata Friedman.

Trump dan “Tembok” di Dalam Negeri

Friedman melihat Trump sebagai produk dari zaman Amerika yang sedang berubah cepat. Selama 25 tahun terakhir, masyarakat AS mengalami perubahan besar pada pola kerja, nilai moral, hingga iklim sosial. Trump hadir dengan janji menghentikan perubahan tersebut — sebuah janji yang memecah publik.

Menurut Friedman, “tembok” Trump menjalankan dua fungsi: memperdalam polarisasi antara mayoritas dan minoritas, serta mengukuhkan dirinya sebagai pusat kekuatan politik. Namun, kelemahan Trump adalah bahwa ia tidak beroperasi dalam koridor aturan. Hal itu, menurut Friedman, ditolak publik pada pemilu terakhir.

“Model Unik yang Tak Boleh Terulang”

Di akhir wawancaranya, Friedman menyebut Trump sebagai “sosok unik yang Allah ciptakan satu saja”, berharap tidak ada lagi presiden Amerika yang memiliki pola serupa di masa depan.

(Samirmusa/arrahmah.id)