GAZA (Arrahmah.id) - Gaza kini menghadapi ancaman baru yang kian mengkhawatirkan: penyebaran infeksi yang kebal antibiotik di seluruh wilayah terkepung itu, sebagaimana diungkap dalam sebuah studi medis yang dipublikasikan oleh The Lancet.
Dalam komentar ilmiah yang diterbitkan pada Selasa (12/8/2025), penelitian ini menganalisis lebih dari 1.300 sampel dari sebuah laboratorium kecil di Rumah Sakit Al-Ahli, Kota Gaza, salah satu dari sedikit layanan mikrobiologi yang masih berfungsi di wilayah tersebut.
“Kami meninjau setiap spesimen yang dikumpulkan dan diproses dari bangsal rumah sakit atau ruang operasi darurat antara 1 November 2023 hingga 31 Agustus 2024,” jelas para peneliti.
Temuan ini menjadi sinyal bahaya akan potensi penyakit yang lebih parah dan penularan yang lebih cepat di tengah masyarakat, di saat jumlah korban tewas terus meningkat akibat serangan brutal 'Israel', lapor Quds News Network (QNN).
Lebih dari 154.000 Luka-luka
Krisis ini diperparah oleh minimnya pasokan medis di Gaza, sementara lebih dari 154.000 warga Palestina telah terluka sejak agresi dimulai pada Oktober 2023. Malnutrisi akibat blokade 'Israel' juga membuat banyak orang semakin rentan terhadap penyakit.
Para ahli menegaskan bahwa komunitas medis internasional “memiliki kewajiban untuk bertindak dan merespons krisis ini.” Tenaga medis dan pemerintah di seluruh dunia, kata mereka, harus mendesak dihentikannya invasi militer 'Israel' yang telah memicu lonjakan cedera parah serta serangan sistematis terhadap rumah sakit, laboratorium, dan fasilitas penyulingan air.
“Tanpa gencatan senjata, beban infeksi akan terus meningkat,” ujar mereka. “Laboratorium yang masih ada harus distabilkan, dan pembatasan masuknya pasokan medis penting harus dicabut.”
Mereka juga menyerukan koordinasi distribusi obat melalui lembaga kemanusiaan dan donor, “mungkin lewat WHO, agar respons terhadap infeksi dapat disesuaikan dengan kebutuhan nyata rumah sakit.”
Hasil yang “Sangat Mengkhawatirkan”
Salah satu penulis studi, Bilal Irfan, mengatakan kepada The Guardian bahwa hasil penelitian ini “sangat mengkhawatirkan.”
“Kita bahkan tidak tahu skala sebenarnya karena hampir semua laboratorium telah dihancurkan dan banyak tenaga medis terbunuh. Jadi, bisa mendapatkan sedikit gambaran saja tentang apa yang terjadi di Gaza sudah sangat penting,” ujarnya.
Pada Selasa (12/8), Perwakilan WHO untuk Tepi Barat dan Gaza, Rik Peeperkorn, mengungkap bahwa kurang dari setengah rumah sakit di Gaza dan di bawah 38 persen pusat layanan kesehatan primer beroperasi secara parsial, bahkan sebagian di tingkat minimal.
“Kekurangan kritis obat-obatan dan peralatan medis terus memburuk, dengan 52 persen obat dan 68 persen perlengkapan habis sama sekali,” kata Dr. Peeperkorn dalam konferensi pers di Jenewa dari Yerusalem.
Ia menjelaskan, rumah sakit sangat kewalahan menangani korban luka dari area distribusi bantuan makanan, yang juga menyebabkan kekurangan darah dan plasma. Sejak 27 Mei, akses masuk tenaga medis internasional kerap ditolak, sementara peralatan penting seperti ICU, mesin anestesi, dan fasilitas rantai dingin tertahan.
Meski WHO berhasil membawa 80 truk pasokan medis sejak Juni, prosedur masuk disebut lambat dan tidak menentu, dengan banyak pengiriman yang tertunda atau ditolak.
“Kami butuh banyak titik penyeberangan yang dibuka, prosedur disederhanakan, dan hambatan akses dihapus,” tegasnya. “Kami sering dengar ada bantuan kemanusiaan yang diizinkan masuk, tapi kenyataannya tidak terjadi, atau kalau pun terjadi, terlalu lambat.”
Korban Jiwa yang Mencengangkan
Sejak 'Israel' membatalkan kesepakatan gencatan senjata pada 18 Maret, ribuan warga Palestina kembali tewas dan terluka di seluruh Jalur Gaza akibat serangan udara tanpa henti.
Perang genosida ini dimulai pada 7 Oktober 2023, setelah operasi perlawanan Palestina di 'Israel' selatan. Sejak itu, 'Israel' telah membunuh lebih dari 61.700 orang, melukai lebih dari 154.500 lainnya, dan lebih dari 14.000 masih hilang.
Meski banyak negara di dunia mengecam genosida 'Israel', hampir tak ada langkah nyata untuk menuntut pertanggungjawaban. Saat ini, 'Israel' tengah diselidiki Mahkamah Internasional atas kejahatan genosida, sementara beberapa tokoh, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, telah masuk daftar buronan resmi Mahkamah Pidana Internasional.
Genosida ini sebagian besar didukung, dibela, dan dibiayai oleh Washington dan sejumlah negara Barat lainnya. (zarahamala/arrahmah.id)
