Memuat...

Hamas Bantah Tuduhan Palsu Terkait Negosiasi Gencatan Senjata dan Isu Pelucutan Senjata

Zarah Amala
Selasa, 7 Oktober 2025 / 16 Rabiulakhir 1447 10:15
Hamas Bantah Tuduhan Palsu Terkait Negosiasi Gencatan Senjata dan Isu Pelucutan Senjata
Mahmoud al-Mardawi, seorang pemimpin senior Hamas. (Foto: Tangkapan video, situs web Al Jazeera Arabic)

GAZA (Arrahmah.id) - Gerakan Perlawanan Palestina Hamas pada Ahad (5/10/2025) mengeluarkan pernyataan yang menolak apa yang disebutnya sebagai “tuduhan palsu” yang disebarkan sejumlah media terkait negosiasi gencatan senjata yang sedang berlangsung dan posisi kelompok itu terhadap pelucutan senjata.

Pejabat Hamas Mahmoud Mardawi menegaskan, “Kami secara tegas membantah klaim palsu yang diterbitkan oleh beberapa media mengenai kemajuan pembicaraan gencatan senjata dan sikap Hamas soal pelucutan senjata.”

Ia menambahkan bahwa laporan-laporan tersebut tidak berdasar dan bertujuan untuk memutarbalikkan fakta serta menyesatkan opini publik. Mardawi menyerukan agar media memverifikasi informasi dan hanya mengandalkan saluran resmi serta kredibel milik Hamas, bukan rumor atau sumber anonim.

Pernyataan ini muncul sebagai tanggapan atas sejumlah laporan yang mengutip sumber tak dikenal dari dalam Hamas. Sumber tersebut mengklaim bahwa gerakan itu telah mulai mengumpulkan jenazah warga 'Israel' dan bersedia menyerahkan senjatanya kepada badan gabungan Palestina–Mesir di bawah pengawasan internasional.

'Israel' memperkirakan masih ada 48 tawanan 'Israel' di Gaza, sekitar 20 orang di antaranya diyakini masih hidup.

Sementara itu, sekitar 11.100 warga Palestina masih ditahan di penjara-penjara 'Israel', di mana banyak dari mereka mengalami penyiksaan, kelaparan, dan kelalaian medis.

Sejumlah tahanan dilaporkan meninggal dalam tahanan, menurut organisasi hak asasi manusia Palestina dan 'Israel'.

Sejak 7 Oktober 2023, 'Israel' dengan dukungan Amerika Serikat telah melancarkan perang genosida di Gaza, menewaskan 67.139 warga Palestina dan melukai 169.583 orang lainnya, sebagian besar perempuan dan anak-anak.

Blokade yang terus berlangsung juga menyebabkan kelaparan parah yang telah merenggut 459 jiwa, termasuk 154 anak-anak. (zarahamala/arrahmah.id)