GAZA (Arrahmah.id) – Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) menegaskan bahwa tidak ada kedaulatan maupun legitimasi bagi penjajah “Israel” atas Masjid Al-Aqsha. Pernyataan ini disampaikan bertepatan dengan peringatan 56 tahun tragedi pembakaran Al-Aqsha pada 21 Agustus 1969, dalam sebuah pernyataan resmi pada Kamis (21/8/2025).
Dalam pernyataannya, Hamas menekankan bahwa seluruh upaya rezim zionis untuk mengubah identitas Islam Al-Aqsha melalui proyek pembagian waktu dan ruang, penodaan, hingga wacana penghancuran, “tidak akan pernah berhasil memaksakan kenyataan baru di lapangan.”
Hamas menegaskan bahwa Al-Quds dan Al-Aqsha tetap menjadi poros utama perlawanan rakyat Palestina. “Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha akan tetap menjadi kompas persatuan umat dalam membelanya hingga terbebas dari penodaan penjajah,” tegas pernyataan itu.
Gerakan tersebut juga menyoroti genosida yang masih berlangsung di Gaza lebih dari 22 bulan, serta eskalasi agresi dan proyek kolonisasi di Tepi Barat. Menurut Hamas, hal itu menunjukkan bahwa kejahatan zionis tidak terbatas pada Palestina semata.
Mengutip pernyataan Perdana Menteri “Israel” Benjamin Netanyahu tentang apa yang disebut “Israel Raya”, Hamas menilai proyek itu sebagai ancaman nyata bagi keamanan kawasan dan dunia. Karena itu, Hamas menyerukan tindakan serius untuk mengisolasi penjajah secara internasional dan mengadili para pemimpinnya sebagai penjahat perang.
Lebih lanjut, Hamas menyerukan umat Islam di seluruh dunia untuk memikul tanggung jawab sejarah dalam mendukung rakyat Palestina. “Umat, baik pemimpin, rakyat maupun organisasi, harus mempersatukan barisan dan memperkuat perannya dalam melindungi Al-Aqsha dari ancaman eksistensial,” tegas pernyataan tersebut.
Hamas juga mengajak rakyat Palestina di Al-Quds, Tepi Barat, dan wilayah 1948 untuk memperbanyak kunjungan, ribath, serta i’tikaf di Al-Aqsha, guna menghadang upaya kelompok ekstremis Yahudi. Sementara itu, umat Islam dan para pembela keadilan di seluruh dunia diminta meningkatkan aksi solidaritas, terutama pada Jumat (22/8), untuk mendukung Gaza yang masih terkepung, dibombardir, dan dilanda kelaparan sistematis.
Sebagai penutup, Hamas menegaskan komitmennya pada perlawanan menyeluruh. “Kami akan terus setia pada darah dan jihad para syuhada dengan berpegang teguh pada perlawanan hingga pembebasan dan kepulangan. Dan sesungguhnya ini adalah jihad; kemenangan atau syahadah,” tegas Hamas.
(Samirmusa/arrahmah.id)
