GAZA (Arrahmah.id) – Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) mengecam keras pembunuhan brutal yang dilakukan oleh pasukan pendudukan “Israel” terhadap para jurnalis di Gaza, termasuk dua koresponden Al Jazeera, Anas asy-Syarif dan Muhammad Quraiqah.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Ahad (10/8/2025), Hamas menegaskan bahwa aksi ini merupakan “kejahatan fasis yang melampaui semua batas kebiadaban dan kekejaman”. Serangan udara “Israel” menghantam tenda para jurnalis yang berada di halaman Rumah Sakit Asy-Syifa, Gaza Barat, menewaskan lima awak media.
Kelima syuhada tersebut adalah koresponden Al Jazeera Anas asy-Syarif dan Muhammad Quraiqah, fotografer Ibrahim Zhahir dan Mu’min ‘Aliwah, serta asisten fotografer Muhammad Naufal. Hamas menegaskan bahwa asy-Syarif dikenal sebagai jurnalis yang gigih mendokumentasikan kejahatan blokade dan kelaparan yang dipaksakan “Israel” terhadap warga Gaza.
Menurut Hamas, serangan ini menambah panjang daftar korban jurnalis yang dibunuh “Israel” di Gaza menjadi 232 orang—jumlah tertinggi dalam sejarah konflik bersenjata modern—yang dilakukan secara sengaja dan sistematis.
“Pembunuhan beruntun terhadap jurnalis adalah pesan teror kepada dunia, menandakan runtuhnya seluruh nilai kemanusiaan dan hukum internasional, di tengah diamnya komunitas global yang justru memberi keberanian bagi ‘Israel’ untuk terus membunuh tanpa takut diadili,” tegas Hamas.
Pernyataan tersebut juga mengungkap bahwa sebelumnya telah ada ancaman berulang dari juru bicara militer “Israel” terhadap sejumlah jurnalis Palestina, termasuk kedua korban dari Al Jazeera, dengan tujuan menghalangi mereka melaporkan fakta dan bukti kejahatan genosida di Gaza.
Hamas memperingatkan bahwa pembungkaman media di Gaza adalah langkah awal menuju “kejahatan besar” yang direncanakan “Israel” terhadap kota tersebut, setelah suara medianya dibungkam, sehingga dapat leluasa melakukan pembantaian tanpa pantauan dunia.
Hamas menyeru seluruh jurnalis dan insan media di dunia untuk meningkatkan aksi solidaritas, membongkar kejahatan “Israel”, dan terus menyuarakan kebenaran yang berusaha ditutup-tutupi. Mereka juga mendesak PBB, khususnya Dewan Keamanan, untuk mengutuk secara tegas pembunuhan ini dan mengambil langkah segera menghentikan pelanggaran berat terhadap hukum internasional, serta mengadili para pemimpin “Israel” atas kejahatan terhadap kemanusiaan.
(Samirmusa/Arrahmah.id)
