GAZA ( Arrahmah.id) — Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, bersama faksi-faksi perlawanan Palestina di Jalur Gaza, mengumumkan pembebasan 20 tawanan “Israel” yang berada dalam tahanan mereka. Langkah ini merupakan bagian dari pelaksanaan tahap pertama rencana gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat melalui apa yang disebut rencana Trump untuk menghentikan perang di Gaza.
Dalam pernyataan resminya yang dikutip dari situs Hamas pada Senin (13/10), gerakan itu menegaskan komitmennya untuk melaksanakan seluruh ketentuan yang disepakati dalam tahap awal kesepakatan pertukaran tersebut, serta menekankan pentingnya peran para mediator dalam memastikan pihak “Israel” mematuhi kewajiban yang telah ditetapkan.
“Pembebasan para tawanan ini merupakan bukti komitmen kami terhadap kesepakatan, dan langkah untuk memastikan musuh menunaikan tanggung jawabnya sesuai perjanjian,” tegas pernyataan itu.
Hamas menyebut bahwa pembebasan para pejuang Palestina dari penjara “Israel” — termasuk di antaranya mereka yang divonis seumur hidup dan telah menghabiskan puluhan tahun di balik jeruji — adalah hasil dari keteguhan rakyat Palestina dan perlawanan yang gigih di Gaza.
“Ini adalah buah dari pengorbanan rakyat kami yang heroik dan kesetiaan perlawanan terhadap janjinya untuk membebaskan para tahanan,” lanjut pernyataan tersebut.
Gerakan itu juga menegaskan bahwa Perdana Menteri “Israel” Benjamin Netanyahu dan militernya telah gagal selama dua tahun perang genosida untuk membebaskan tentaranya melalui kekuatan senjata.
“Netanyahu akhirnya terpaksa tunduk pada syarat-syarat perlawanan yang menegaskan bahwa jalan satu-satunya bagi kembalinya para tentaranya adalah melalui kesepakatan pertukaran dan penghentian perang,” tulis Hamas.
Pernyataan itu menambahkan bahwa pihak perlawanan telah berupaya menjaga keselamatan tawanan “Israel” meski berulang kali upaya mereka digagalkan oleh serangan militer penjajah yang berusaha menyingkirkan para tawanan tersebut.
Hamas menegaskan, di saat mereka berupaya melindungi tawanan, para tahanan Palestina di penjara “Israel” justru terus mengalami kekerasan, penyiksaan, dan pembunuhan sistematis.
Gerakan itu menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa isu para tahanan tetap menjadi prioritas nasional tertinggi bagi rakyat dan perlawanan Palestina.
“Rakyat kami tidak akan tenang hingga tahanan terakhir dibebaskan dari penjara para ‘Nazi baru’ dan pendudukan dihapuskan dari tanah serta tempat-tempat suci kami,” tegas Hamas.
(Samirmuda/arrahmah.id)
