Memuat...

'Israel' Pura-Pura Mundur, Tapi Diam-diam Bangun Basis Baru di Gaza

Zarah Amala
Jumat, 17 Oktober 2025 / 26 Rabiulakhir 1447 09:31
'Israel' Pura-Pura Mundur, Tapi Diam-diam Bangun Basis Baru di Gaza
Citra satelit terbaru, ''Israel' tampak memperkuat kehadiran militernya di kawasan Tel al-Muntar, timur Kota Gaza (Al Jazeera)

GAZA (Arrahmah.id) - Analis militer dan strategi Elias Hanna menjelaskan bahwa pasukan 'Israel' telah mundur dari posisi tempur garis depan dan melakukan penataan ulang di 37 titik konsentrasi baru di Jalur Gaza, menegaskan bahwa tahap pertama penarikan pasukan pendudukan itu selesai dalam 24 jam pertama setelah penandatanganan perjanjian gencatan senjata terakhir.

Menurut Hanna, reposisi ini tidak berarti penarikan penuh, melainkan penyebaran taktis ulang di area tertentu di utara dan selatan Gaza, kemungkinan sebagai persiapan untuk fase “pasca-gencatan senjata”, bila perjanjian perdamaian gagal dipertahankan.

Dalam analisisnya mengenai peta militer Gaza, Hanna menyebutkan bahwa sekitar 26% dari titik-titik konsentrasi baru berada di wilayah utara Gaza, khususnya di Beit Lahia dan Beit Hanoun, sementara Kota Gaza sendiri menampung 16% dari titik-titik tersebut.

Di sisi lain, 27% pasukan ditempatkan di selatan, terutama di Rafah dan Khan Yunis, yang menurut Hanna menunjukkan keinginan 'Israel' untuk tetap mempertahankan kendali militer atas wilayah-wilayah strategis di tepi Gaza.

Sementara itu, minimnya kehadiran militer 'Israel' di wilayah tengah Gaza dikaitkan dengan operasi pencarian jenazah para tawanan 'Israel' yang hilang, salah satu isu sensitif dalam perjanjian gencatan senjata.

Hanna menjelaskan bahwa operasi terakhir di wilayah tengah dilakukan di Kota Gaza sebelum pasukan bergerak mundur ke titik-titik barunya saat ini.

Mengenai Poros Philadelphi, perbatasan antara Gaza dan Mesir, Hanna menekankan bahwa poros itu merupakan “pilar utama” dalam fase berikutnya dari kesepakatan. Ia menambahkan bahwa Presiden AS Donald Trump menganggap penguasaan penuh atas jalur perbatasan tersebut sebagai syarat mutlak dalam setiap pengaturan keamanan pascaperang.

Berdasarkan citra satelit terbaru, 'Israel' tampak memperkuat kehadiran militernya di kawasan Tel al-Muntar, timur Kota Gaza, dengan pembangunan benteng dan posisi baru hanya sepekan setelah gencatan senjata dimulai. Sebaliknya, foto satelit 10 hari sebelum gencatan senjata (27 September) menunjukkan area itu sepenuhnya kosong dari aktivitas militer.

Menurut Hanna, perluasan militer ini mencerminkan niat tersembunyi 'Israel' untuk menggambar ulang peta penarikan pasukan sesuai rencana strategis jangka panjangnya di Gaza, mengingat Tel Aviv sebelumnya sempat menuntut hak untuk menempatkan pasukan hingga 1,1 kilometer ke dalam wilayah Gaza di area Tel al-Muntar selama perundingan Januari lalu.

Ia memperingatkan bahwa manuver darat Israel ini bisa menjadi pembuka bagi babak eskalasi baru, bila kesepakatan politik gagal dijalankan atau implementasinya tersendat. (zarahamala/arrahmah.id)