Memuat...

Joki UTBK Incar Fakultas Kedokteran, IDI Peringatkan Bahaya Lolosnya Calon Dokter Tak Kompeten

Ameera
Kamis, 23 April 2026 / 6 Zulkaidah 1447 18:01
Joki UTBK Incar Fakultas Kedokteran, IDI Peringatkan Bahaya Lolosnya Calon Dokter Tak Kompeten
????????????????????????????????????

SUMENEP (Arrahmah.id) - Praktik joki dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) kembali menjadi sorotan.

Modus ini dinilai sangat meresahkan, terutama karena banyak digunakan untuk mengincar kursi di Fakultas Kedokteran.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sumenep, Rifmi Utami, mengungkapkan keprihatinannya terhadap maraknya praktik joki yang justru berpotensi meloloskan calon mahasiswa yang tidak kompeten di bidang medis.

“Saya prihatin, para joki profesional ini menjadikan praktik tersebut sebagai mata pencaharian. Mereka terus mencari celah untuk meloloskan orang yang sebenarnya tidak kompeten,” ujar Rifmi, Kamis (23/4/2026).

Ia berharap sistem seleksi yang digunakan pemerintah dapat terus diperkuat agar tidak mudah ditembus oleh praktik kecurangan.

Menurutnya, meski sistem UTBK berbasis komputer saat ini lebih ketat dibandingkan metode lama, peluang kecurangan tetap ada.

Rifmi menjelaskan, praktik kecurangan dalam ujian sebenarnya sudah terjadi sejak lama, hanya saja metodenya kini semakin berkembang.

Jika dulu dilakukan secara tradisional seperti berbagi jawaban antar peserta, kini joki memanfaatkan celah dalam sistem digital.

“Sekarang memang lebih sulit karena soal tiap peserta berbeda. Tapi tetap saja, kemungkinan adanya celah itu selalu ada,” katanya.

Ia menilai, salah satu faktor utama maraknya penggunaan jasa joki adalah ambisi besar untuk masuk Fakultas Kedokteran.

Bahkan, dalam beberapa kasus, orang tua yang memiliki kemampuan finansial rela menyewa joki demi meluluskan anaknya.

“Biasanya ada ambisi kuat menjadi dokter, tapi kemampuan akademiknya belum memenuhi. Akhirnya memilih jalan pintas dengan menggunakan joki,” tambahnya.

Di sisi lain, IDI memberikan apresiasi kepada peserta yang mengikuti seleksi secara jujur dan mengandalkan kemampuan sendiri. Rifmi menegaskan bahwa proses pendidikan kedokteran tetap memiliki seleksi alam, di mana mahasiswa akan diuji ketahanannya selama masa studi.

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, mengungkapkan bahwa praktik joki memang ditemukan dalam pelaksanaan UTBK SNBT tahun ini. Temuan tersebut didapat saat peninjauan di salah satu lokasi ujian di Jawa Timur.

“Iya, jurusan yang diincar salah satunya adalah kedokteran di perguruan tinggi di Jawa Timur,” ujarnya.

Ia menegaskan, pemerintah tidak akan mentoleransi praktik tersebut. Peserta yang terbukti menggunakan joki akan langsung didiskualifikasi dan dikenai sanksi berat berupa blacklist dari seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) seumur hidup.

“Ini mencederai tujuan pendidikan yang menjunjung tinggi integritas dan kejujuran. Kesalahan dalam belajar masih bisa diperbaiki, tapi ketidakjujuran tidak bisa ditoleransi,” tegas Atip.

Kasus ini kembali menjadi pengingat pentingnya menjaga integritas dalam sistem pendidikan, khususnya pada seleksi calon tenaga medis yang kelak akan berhadapan langsung dengan keselamatan manusia.

(ameera/arrahmah.id)