GAZA (Arrahmah.id) - Kelompok peretas Iran “Hanzala” mengumumkan pada Sabtu malam (29/11/2025) bahwa mereka berhasil meretas mobil seorang ilmuwan nuklir senior 'Israel' dan meninggalkan rangkaian bunga beserta pesan ancaman.
Media pemerintah Iran, termasuk Kantor Berita Mahasiswa Iran (ISNA), mengidentifikasi ilmuwan tersebut sebagai Dr. Isaac Gertz, seorang insinyur nuklir senior. ISNA melaporkan bahwa kelompok Hanzala memperoleh data pribadi Gertz setelah meretas sistem di Pusat Penelitian Nuklir Soreq milik 'Israel'.
Kelompok tersebut kemudian mempublikasikan pesan ancaman melalui Telegram, yang mengisyaratkan bahwa rangkaian bunga yang dikirimkan bukan sekadar hadiah biasa.
Dalam pesan itu, Hanzala menyampaikan, “Bukumu sudah kau terima kemarin. Tampak tak berbahaya, tetapi kau merasakan beratnya, bukan? Kau merasakan kehadirannya, tangan yang membawanya, dan langkah kaki yang lenyap sebelum pintu dibuka.”
Mereka juga menyinggung kemungkinan adanya peretasan atau penjebakan terhadap kendaraan ilmuwan tersebut:
“Katakan pada kami, bagaimana mobilmu? Apakah kau mendengar suara ‘retak’ kecil saat menyentuh gagang pintu? Apakah kau merasa… aneh?”
Kelompok tersebut menekankan kedalaman akses mereka di dalam wilayah 'Israel', “Kami berjalan di jalananmu. Kami menghirup udara yang sama. Kami berdiri di tempat-tempat yang kau kira tak dapat ditembus.”
Hanzala juga menyertakan ancaman langsung kepada Perdana Menteri 'Israel', menyebut meningkatnya ketidakpuasan publik, “Katakan pada Perdana Menteri-mu ini: berhentilah mengendalikan rakyat dan mulai memberi makan mereka. Rasa lapar di bawah kakinya semakin menjadi setiap jam.”
Ketegangan Iran–'Israel' meningkat tajam sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan perang 'Israel' di Gaza. Rivalitas yang sebelumnya bersifat terselubung berubah menjadi konfrontasi langsung.
'Israel' meningkatkan serangan lintas kawasan, termasuk pembunuhan komandan penting, serangan terhadap konsulat Iran di Damaskus pada April 2024, serta pembunuhan seorang pemimpin Hamas di Teheran pada Juli 2024.
Pada Juni 2025, 'Israel' memperluas agresinya menjadi serangan langsung terhadap fasilitas militer dan nuklir Iran, menewaskan ribuan warga sipil.
Sebagai balasan, Iran menghentikan doktrin “kesabaran strategis” dan melancarkan serangan rudal dan drone besar-besaran terhadap 'Israel'. Serangan balasan pada April 2024 dan eskalasi perang 12 hari pada Juni 2025 menandai fase baru konfrontasi terbuka, menegaskan posisi Iran sebagai kekuatan regional yang mampu melakukan serangan balik langsung. (zarahamala/arrahmah.id)
