JAKARTA (Arrahmah.id) - Kasus kematian diplomat muda Kementerian Luar Negeri, Arya Daru Pangayunan, terus menjadi teka-teki.
Pakar digital forensik Abimanyu Wachjoewidajat, yang akrab disapa Abah, membuka tabir sejumlah kejanggalan pada bukti rekaman CCTV yang sejauh ini belum disentuh oleh penyidik kepolisian.
Dalam keterangannya yang dikutip dari tvOnenews.com (Rabu, 16 Juli 2025), Abah menyoroti tiga temuan penting:
Pertama, ketidakkonsistenan sensor lampu di dekat kamar Arya. Lampu menyala otomatis saat Arya lewat, namun tidak menyala saat penjaga kos melintas di lokasi yang sama.
“Kenapa lampunya enggak nyala pas dilewati orang lain? Polisi harusnya selidiki ini,” tegas Abah.
Kedua, dugaan adanya potongan dalam video CCTV yang beredar. Dalam satu rekaman, pintu kamar Arya berada di titik buta kamera.
Namun, di video lainnya, pintu terekam jelas saat dua orang terlihat mencoba membuka jendela dan pintu kamar tersebut.
Abah menilai video yang disebarkan ke publik kemungkinan sudah disunting, dan mendesak agar versi utuh dari kepolisian dibuka demi transparansi.
Ketiga, keberadaan akses belakang kos yang tidak terpantau CCTV. Struktur bangunan kos yang melingkar membuat bagian belakang rawan luput dari pantauan kamera. Jika ada pergerakan mencurigakan dari arah itu, bisa saja terlewatkan sepenuhnya.
Arya ditemukan meninggal di kamarnya pada 8 Juli 2025 dengan kepala dilakban. Meski hasil autopsi awal tak menunjukkan tanda kekerasan, publik masih bertanya-tanya soal penyebab pasti kematiannya.
Dengan munculnya analisis teknis dari Abah, publik mendesak kepolisian untuk melakukan penyelidikan yang lebih serius dan transparan.
Misteri kematian sang diplomat muda belum selesai, dan kebenaran harus diungkap hingga tuntas.
(ameera/arrahmah.id)
