TEHERAN (Arrahmah.id) -- Jumlah korban tewas akibat gelombang protes nasional di Iran dilaporkan meningkat tajam menjadi sedikitnya 544 orang, di tengah penindakan aparat keamanan yang semakin keras dan pemadaman akses informasi. Situasi ini terjadi bersamaan dengan pernyataan keras Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang menyamakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Firaun kuno menyusul ancaman Washington terhadap Teheran.
Data korban disampaikan oleh lembaga HAM berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), yang mencatat sedikitnya 496 demonstran dan 48 anggota pasukan keamanan tewas sejak protes merebak. Selain itu, lebih dari 10.600 orang dilaporkan ditahan. Pemerintah Iran hingga kini belum merilis angka resmi korban secara nasional.
Gelombang protes yang dipicu krisis ekonomi dan ketidakpuasan publik terhadap pemerintahan terus berlanjut meski aparat memperketat penindakan.
Aktivis Jerman-Iran Daniela Sepheri mengatakan kepada DW bahwa kondisi di lapangan sangat berbahaya, namun tidak menyurutkan tekad masyarakat untuk turun ke jalan.
“Rezim sedang berjuang mempertahankan kekuasaan, tapi rakyat Iran juga sedang berjuang,” kata Sepheri, seperti dikutip dari DW (12/1/2026).
Ia menyebut aparat keamanan secara langsung menargetkan para pengunjuk rasa, bahkan berupaya menculik korban luka dari rumah sakit. Menurutnya, pembatasan internet dan jaringan telepon membuat verifikasi jumlah korban menjadi sangat sulit.
Di tengah eskalasi tersebut, Ayatollah Khamenei pada Selasa (13/1) mengunggah pernyataan di akun resmi X dengan menyamakan Trump dengan Firaun, penguasa arogan dalam sejarah kuno. Dalam unggahan berbahasa Persia itu, Khamenei menampilkan gambar sarkofagus bergaya firaun yang runtuh dengan wajah Trump.
“Penguasa arogan yang berusaha mendominasi dunia, seperti Firaun, Nimrod, Reza Khan, dan Mohammad Reza, digulingkan di puncak kekuasaan mereka. Yang ini pun akan digulingkan,” tulis Khamenei.
Pernyataan tersebut muncul di tengah ancaman terbaru Trump terhadap kepemimpinan Iran dan komentarnya terkait kerusuhan internal di negara tersebut.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik kekacauan yang terjadi, serta mengimbau kaum muda Iran agar tidak terprovokasi untuk bergabung dengan para perusuh.
Sementara itu, kelompok aktivis HAM memperingatkan bahwa angka korban kemungkinan masih akan bertambah seiring berlanjutnya penindakan aparat dan terbatasnya akses informasi dari dalam negeri Iran. (hanoum/arrahmah.id)
