TEHRAN (Arrahmah.id) – Kompleksitas pertempuran di wilayah udara Iran semakin meningkat di tengah konfrontasi teknologi antara sistem pertahanan udara Iran dan pesawat tempur Amerika Serikat serta “Israel”. Meskipun kedua negara itu memiliki keunggulan teknologi militer, mereka hingga kini belum mampu memaksakan kendali udara penuh di atas wilayah Iran.
Laporan-laporan terbaru menyebutkan bahwa sejumlah pesawat nirawak “Israel” dan pesawat pengintai Amerika berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan Iran. Situasi ini memunculkan paradoks militer: di satu sisi AS dan “Israel” memiliki pesawat tempur paling canggih di dunia, tetapi di sisi lain Iran masih mampu mempertahankan ruang udaranya dari dominasi penuh musuh.
Pakar militer, Kolonel (Purn.) Nidal Abu Zaid, menjelaskan bahwa pertahanan udara Iran mengandalkan sejumlah sistem lokal, di antaranya Khordad dan Bavar. Kedua sistem tersebut disebut memiliki desain yang menyerupai sistem pertahanan udara Rusia S-300.
Iran’s Khordad-15 Air Defense System
Menurut Abu Zaid, sistem-sistem ini digunakan untuk menghadapi berbagai ancaman udara, termasuk pesawat nirawak seperti Heron dan Hermes 900 yang sering digunakan oleh “Israel” dalam operasi pengintaian.
Namun demikian, ia juga mengakui bahwa pesawat tempur generasi terbaru milik Amerika, seperti F-22 dan F-35, memiliki keunggulan teknologi yang dapat menciptakan celah dalam sistem pertahanan udara Iran. Pesawat-pesawat siluman tersebut mampu menyerang radar dan membuat sebagian sistem pertahanan darat menjadi “buta” terhadap serangan udara.
Hingga saat ini, Komando Pusat Militer Amerika Serikat belum mengumumkan adanya pesawat tempur mereka yang ditembak jatuh oleh Iran. Namun pada Senin lalu, militer AS mengakui bahwa tiga pesawat Amerika jatuh di wilayah Kuwait akibat tembakan kawan sendiri, ketika pertahanan udara Kuwait secara tidak sengaja menembak jatuh pesawat tersebut saat operasi tempur berlangsung.
Peran Pesawat Nirawak
Selain pesawat tempur, pesawat nirawak juga menjadi faktor penting dalam upaya mencapai apa yang dikenal sebagai superioritas udara. Setiap upaya AS dan “Israel” untuk memperkuat dominasi udara seringkali dihadapi oleh sistem pertahanan Iran yang menargetkan drone-drone tersebut.
Heron
Media Iran melaporkan bahwa dua pesawat nirawak “Israel” jenis Heron dihancurkan di wilayah Isfahan, Iran tengah.
Menurut Abu Zaid, keunggulan udara memang mungkin dicapai dalam pertempuran, tetapi kendali udara penuh—yaitu kondisi ketika pertahanan darat tidak lagi mampu melakukan aktivitas apa pun—belum berhasil dicapai hingga saat ini.
Ia menegaskan bahwa kekuatan udara saja tidak cukup untuk menentukan hasil akhir perang. Menurutnya, Amerika Serikat tidak akan mampu mencapai kemenangan militer di Iran tanpa melibatkan pasukan darat dalam jumlah besar.
Namun Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak kemungkinan tersebut. Ia menyatakan bahwa pengiriman pasukan darat ke Iran hanya akan menjadi “pemborosan waktu”.
Trump juga menanggapi pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang memperingatkan bahwa setiap operasi darat Amerika akan berakhir dengan bencana bagi pasukan AS.
Konflik yang Terus Memanas
Sejak 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan “Israel” melancarkan serangan terhadap Iran. Serangan tersebut menewaskan dan melukai ratusan orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat militer tinggi seperti Menteri Pertahanan dan komandan Garda Revolusi Iran.
Sebagai balasan, Teheran meluncurkan rudal dan pesawat nirawak ke arah “Israel”, serta menargetkan apa yang mereka sebut sebagai kepentingan Amerika di sejumlah negara Arab dan Teluk.
Serangan balasan ini menyebabkan korban jiwa serta kerusakan pada fasilitas sipil, termasuk bandara, pelabuhan, dan bangunan tempat tinggal.
(Samirmusa/arrahmah.id)
