TEL AVIV (Arrahmah.id) - Eskalasi militer di Timur Tengah memasuki hari keenam dengan serangan besar-besaran yang diluncurkan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran ke jantung kota Tel Aviv pada Kamis malam (5/3/2026). Dalam gelombang serangan ke-20 dari operasi yang dinamakan Janji Setia 4 (True Promise 4), Iran menggunakan kombinasi pesawat nirawak (drone) dan rudal balistik canggih jenis Kheibar Shekan.
Saksi mata melaporkan rentetan ledakan dahsyat mengguncang Tel Aviv setelah IRGC meluncurkan tiga gelombang rudal hanya dalam kurun waktu 30 menit. Meskipun militer 'Israel' (IDF) mengklaim telah mengaktifkan sistem pertahanan udara secara maksimal, surat kabar Haaretz melaporkan adanya kerusakan signifikan pada sejumlah bangunan di wilayah 'Israel' tengah akibat hantaman proyektil yang gagal dicegat.
Penggunaan rudal Kheibar Shekan dalam serangan ini menjadi sorotan karena kemampuan teknisnya yang mampu menembus sistem pertahanan udara. Memiliki daya jangkau hingga 1.450 kilometer, cukup untuk menjangkau seluruh wilayah 'Israel' dari dalam daratan Iran. Dilengkapi dengan hulu ledak yang dapat bermanuver (maneuverable reentry vehicle) pada fase akhir untuk menghindari intersepsi rudal Arrow atau Patriot milik 'Israel'.
Militer 'Israel' melaporkan adanya penggunaan rudal tipe cluster yang membawa beberapa hulu ledak ledak tinggi, memaksa sistem pertahanan udara melakukan kerja ekstra keras. Serangan ini menyebabkan kepanikan dan gangguan pada fasilitas publik utama.
Sirene peringatan berbunyi saat sebuah pesawat komersial 'Israel' hendak mendarat. Pesawat tersebut terpaksa berputar-putar di udara selama satu jam sebelum akhirnya dinyatakan aman untuk mendarat. Tim pemadam kebakaran dan polisi dikerahkan ke berbagai titik di Tel Aviv untuk memadamkan api yang dipicu oleh serpihan rudal hasil intersepsi maupun hantaman langsung.
Serangan masif ini terjadi hanya beberapa jam setelah Kepala Staf IDF, Eyal Zamir, mengeklaim bahwa serangan udara 'Israel' telah melumpuhkan 60% kemampuan balistik Iran. Hal ini memicu perdebatan di internal 'Israel' mengenai akurasi penilaian ancaman yang dikeluarkan oleh komando militer.
Hingga saat ini, militer 'Israel' tetap memberlakukan sensor ketat terkait rincian jumlah korban dan lokasi spesifik jatuhnya rudal. Sejak dimulainya konflik pada 28 Februari lalu, perang ini telah menewaskan ratusan orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, yang dibalas Teheran dengan serangan rudal yang juga menyasar kepentingan Amerika Serikat di negara-negara Teluk. (zarahamala/arrahmah.id)
