WASHINGTON (Arrahmah.id) - Di tengah berkecamuknya perang Amerika Serikat-'Israel' melawan Iran, perhatian dunia internasional kini tertuju pada peran potensial bangsa Kurdi. Laporan terbaru dari The Guardian yang ditulis oleh Jason Burke mengungkapkan bahwa pemerintahan Donald Trump tengah mempertimbangkan untuk melibatkan Kurdi, khususnya kelompok oposisi Kurdi-Iran, guna memberikan tekanan tambahan terhadap rezim Teheran.
Analis militer melihat bahwa keterlibatan Kurdi dalam konflik ini bukan tanpa alasan strategis. Pasukan Kurdi diharapkan dapat menguasai wilayah-wilayah perbatasan di Iran yang berpenduduk mayoritas Kurdi. Langkah ini bertujuan untuk memaksa militer Iran memecah konsentrasi pasukan dan sumber daya mereka dari front utama.
AS berharap pergerakan Kurdi dapat memicu kelompok etnis minoritas lainnya di dalam Iran untuk ikut bergerak melawan pemerintah pusat. Pengalaman pasukan Kurdi (Peshmerga dan YPG) dalam menumpas ISIS di Suriah dan Irak telah membuktikan bahwa mereka adalah kekuatan tempur yang efektif di medan pegunungan yang sulit.
Laporan tersebut mengingatkan kembali bahwa Kurdi adalah salah satu kelompok etnis terbesar di dunia (30-40 juta jiwa) yang tidak memiliki negara merdeka. Sebagian besar tinggal di wilayah pegunungan yang melintasi perbatasan Turki, Iran, Irak, Suriah, dan Armenia.
Sejak pembagian wilayah Timur Tengah di awal abad ke-20, aspirasi Kurdi untuk merdeka sering kali dikhianati oleh kekuatan besar dunia setelah kepentingan politik mereka terpenuhi.
Meskipun ada tawaran kerja sama dari Washington, para pemimpin Kurdi di Irak Utara saat ini cenderung memilih sikap netral. Ada kekhawatiran besar bahwa mereka akan kembali dieksploitasi dalam konflik kekuatan besar dan kemudian ditinggalkan. Hal ini memperkuat pepatah terkenal Kurdi: "Tak ada teman bagi kami selain pegunungan."
Dari konflik dengan PKK di Turki, tragedi di bawah rezim Saddam Hussein di Irak, hingga penindasan pasca-protes Mahsa Amini (2022) dan demonstrasi besar akhir 2025 di Iran, sejarah bangsa Kurdi dipenuhi dengan pengorbanan tanpa hasil politik yang pasti. (zarahamala/arrahmah.id)
