SWEIDA (Arrahmah.id) - Menteri Pertahanan Suriah mengumumkan gencatan senjata di kota Sweida yang berpenduduk mayoritas Druze pada Selasa (15/7/2025) setelah pasukan pemerintah memasuki kota tersebut untuk mengakhiri bentrokan mematikan dengan suku-suku Badui.
“Kepada semua unit yang beroperasi di dalam kota Sweida, kami mengumumkan gencatan senjata sepenuhnya setelah adanya kesepakatan dengan para tokoh dan pejabat kota,” tulis Menteri Pertahanan Murhaf Abu Qasra dalam akun Twitternya. Bentrokan meletus antara pasukan pemerintah dan para pejuang Druze setelah adanya pernyataan yang bertentangan dari para pemuka agama Druze, yang mana sebagian besar dari mereka mendesak agar para pejuang meletakkan senjata, lansir AFP.
Pasukan pemerintah Suriah memasuki kota Sweida yang mayoritas penduduknya beragama Druze pada Selasa, kata kementerian dalam negeri, yang bertujuan untuk mengakhiri bentrokan dengan suku Badui yang telah menewaskan hampir 100 orang.
Kota di bagian selatan Suriah ini telah dikuasai oleh faksi-faksi bersenjata dari kelompok minoritas Druze, di mana para pemuka agamanya mengatakan bahwa mereka telah menyetujui pengerahan pasukan Damaskus dan meminta para pejuang untuk menyerahkan senjata mereka.
Jam malam akan diberlakukan di kota selatan dalam upaya untuk menghentikan kekerasan, yang meletus pada akhir pekan lalu dan sejak itu telah menyebar ke seluruh provinsi Sweida.
Pasukan pemerintah mengatakan bahwa mereka turun tangan untuk memisahkan kedua belah pihak, namun akhirnya menguasai beberapa wilayah Druze di sekitar Sweida, koresponden AFP melaporkan.
Pasukan militer terlihat bergerak maju ke arah Sweida pada Selasa pagi, dengan artileri berat dikerahkan di dekatnya.
Kementerian pertahanan kemudian mengatakan bahwa mereka telah memasuki kota, dan mendesak masyarakat untuk “tetap tinggal di rumah dan melaporkan setiap pergerakan kelompok-kelompok penjahat.”
Seorang koresponden AFP mendengar ledakan dan suara tembakan saat tentara bergerak ke Sweida.
Pasukan telah mulai bergerak menuju kota tersebut pada Senin, menguasai setidaknya satu desa Druze, dan satu faksi Druze mengatakan bahwa pembicaraan sedang berlangsung dengan pemerintah Damaskus.
Pemantau perang Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) melaporkan 99 orang tewas sejak pertempuran meletus pada Ahad -60 orang Druze, termasuk empat warga sipil, 18 pejuang Badui, 14 personil keamanan, dan tujuh orang tak dikenal berseragam militer.
Kementerian pertahanan melaporkan 18 kematian di antara jajaran angkatan bersenjata.
Sementara otoritas agama Druze telah menyerukan gencatan senjata pada Senin malam dan mengatakan bahwa mereka tidak menentang pemerintah pusat, Syekh Hikmat Al-Hijri, salah satu dari tiga pemimpin spiritual Druze di Sweida, menentang kedatangan pasukan keamanan dan menyerukan “perlindungan internasional.”
"Israel", yang telah berusaha untuk menggambarkan dirinya sebagai pelindung Druze di Suriah dan melihat mereka sebagai sekutu potensial, mengebom beberapa tank Suriah pada Senin.
Serangan tersebut merupakan “peringatan yang jelas bagi 'rezim Suriah' -kami tidak akan membiarkan kerusakan terjadi pada Druze di Suriah,” klaim Menteri Pertahanan Israel Katz, yang negaranya memiliki populasi Druze.
Pertempuran ini menggarisbawahi tantangan yang dihadapi pemimpin sementara Ahmad Asy Syaraa yang pasukannya menggulingkan rezim Bashar Assad pada Desember setelah hampir 14 tahun perang.
Populasi Druze Suriah sebelum perang diperkirakan mencapai sekitar 700.000 jiwa, kebanyakan dari mereka terkonsentrasi di provinsi Sweida.
Suku Druze, pengikut agama esoterik yang memisahkan diri dari Syiah, sebagian besar ditemukan di Suriah, Lebanon dan "Israel".
Setelah bentrokan mematikan dengan pasukan pemerintah pada April dan Mei, para pemimpin lokal dan agama mencapai kesepakatan dengan Damaskus di mana para pejuang Druze telah menyediakan keamanan di provinsi tersebut.
Dalam sebuah posting di X, Menteri Pertahanan Suriah Murhaf Abu Qasra mendesak pasukannya untuk “melindungi sesama warga negara” dari “geng-geng penjahat,” dan untuk “mengembalikan stabilitas ke Sweida.”
Kekerasan dimulai pada Ahad ketika orang-orang bersenjata Badui menculik seorang pedagang sayur Druze di jalan raya menuju Damaskus, yang memicu penculikan balasan.
SOHR mengatakan bahwa anggota suku Badui, yang merupakan Muslim Sunni, telah berpihak pada pasukan keamanan selama konfrontasi sebelumnya dengan Druze.
Suku Badui dan Druze memiliki perseteruan yang sudah berlangsung lama di Sweida, dan kekerasan kadang-kadang meletus di antara kedua belah pihak. (haninmazaya/arrahmah.id)
