Memuat...

Nader Sadaqa, Aktivis Palestina-Samaritan, Dibebaskan Setelah 21 Tahun di Penjara 'Israel'

Zarah Amala
Selasa, 14 Oktober 2025 / 23 Rabiulakhir 1447 12:19
Nader Sadaqa, Aktivis Palestina-Samaritan, Dibebaskan Setelah 21 Tahun di Penjara 'Israel'
Nader Sadaqa, aktivis Palestina dari komunitas Israelite Samaritan sekaligus mantan komandan Brigade Abu Ali Mustafa (QNN)

GAZA (Arrahmah.id) - Aktivis dari komunitas Israelite Samaritan sekaligus mantan komandan Brigade Abu Ali Mustafa, Nader Sadaqa, pada Senin (13/10/2025) melangkah bebas setelah lebih dari dua dekade mendekam di penjara-penjara 'Israel'. Ia dibebaskan oleh Hamas dalam pertukaran tahanan terbaru dengan 'Israel', sebuah kesepakatan yang menukar 48 tentara 'Israel' dengan hampir 2.000 warga Palestina yang diculik dan ditahan.

Sadaqa (47), dikenal sebagai salah satu figur paling menonjol dalam sejarah gerakan tahanan Palestina. Lahir di Nablus pada 1977, ia tumbuh di Gunung Gerizim, situs suci bagi komunitas Samaritan, dan dikenal karena berhasil memadukan akar religiusnya yang dalam dengan identitas nasional Palestina yang kuat.

Nader Sadaqa menempuh pendidikan di Universitas An-Najah, Nablus, jurusan sejarah dan arkeologi. Ketertarikannya pada sejarah Palestina menjadi jalan menuju kesadaran politik. Ia bergabung dengan Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP) sebagai aktivis mahasiswa, sebelum akhirnya menjadi komandan lokal sayap bersenjata PFLP, Brigade Abu Ali Mustafa, pada masa Intifada Kedua.

Dikenal di kalangan rekan seperjuangan karena disiplin dan kecerdasannya, Sadaqa memimpin sejumlah operasi perlawanan terhadap pos-pos militer 'Israel', termasuk operasi di pos pemeriksaan Hamra di Lembah Yordan. Pada 2004, setelah dua tahun diburu, pasukan 'Israel' menangkapnya di Kamp Ain, dekat Nablus.

Pengadilan militer 'Israel' menjatuhkan hukuman enam kali penjara seumur hidup ditambah 45 tahun, dengan tuduhan memimpin operasi perlawanan terhadap tentara 'Israel'. Selama interogasi di pusat tahanan terkenal Petah Tikva, ia mengalami penyiksaan fisik dan psikologis selama berbulan-bulan, namun menolak untuk mengaku.

Kisah Sadaqa mengguncang stereotip 'Israel'. Selama puluhan tahun, 'Israel' menjadikan komunitas kecil Samaritan Palestina, yang kini berjumlah kurang dari 800 orang di seluruh dunia, sebagai contoh “koeksistensi damai” dengan pendudukan. Namun Sadaqa, seorang Samaritan yang memilih perlawanan, membalik narasi itu sepenuhnya.

Pejabat 'Israel' menjulukinya “Samaritan jahat”. 'Israel' berulang kali menolak untuk membebaskannya dalam pertukaran tahanan sebelumnya, karena khawatir kisahnya akan menginspirasi banyak orang.

Bagi komunitasnya, Sadaqa menjadi sosok sekaligus simbol, bukti bahwa bahkan seorang lelaki dari minoritas agama terkecil di dunia dapat memainkan peran bersejarah dalam perjuangan rakyat Palestina untuk meraih kebebasan.

Di dalam penjara, Sadaqa dikenal dengan julukan “sang pemikir.” Ia menjadikan selnya sebagai ruang kuliah kecil, mengajar sesama tahanan tentang sejarah, identitas, dan perjuangan Palestina. Ia menulis sejumlah esai yang disebarkan secara rahasia melalui surat kabar dan laporan hak asasi manusia Palestina, menyerukan persatuan antar faksi dan menyebut pendidikan sebagai bentuk perlawanan.

Meski bertahun-tahun ditempatkan di sel isolasi, ia tetap optimistis. Kepada sesama tahanan, ia sering berkata: “Kebebasan bukanlah hadiah, ia adalah kebenaran yang menunggu untuk diwujudkan.”

Hamas Membebaskan Sadaqa

Setelah 21 tahun di balik jeruji, nama Nader Sadaqa akhirnya muncul dalam daftar tahanan Palestina yang dibebaskan oleh Hamas dalam pertukaran “Banjir Pembebasan” (Flood of the Free).
Keluarganya di Gunung Gerizim menggambarkan momen itu sebagai “keajaiban setelah penantian tanpa akhir.”

Namun otoritas 'Israel' dilaporkan melarangnya kembali ke rumahnya di Nablus, dan berencana mengasingkannya ke luar Tepi Barat,upaya untuk menghapus kehadiran simbolisnya di tanah kelahirannya.

Apa itu Samaritan?

Komunitas Samaritan Palestina adalah kelompok keagamaan kuno yang berasal dari tanah Palestina dan dianggap sebagai salah satu komunitas tertua di wilayah itu. Berbeda dengan kelompok Yahudi lainnya, mereka meyakini bahwa Gunung Gerizim, bukan Yerusalem, adalah situs suci sejati. Mereka juga menjaga versi paling tua dari Taurat, yang diyakini berusia sekitar 3.646 tahun Ibrani, menjadikannya bagian penting dari sejarah spiritual Palestina yang kaya dan saling terkait.

Saat ini, jumlah Samaritan hanya sekitar 785 orang, sekitar 385 tinggal di puncak Gunung Gerizim di kota Nablus, sementara sekitar 400 lainnya menetap di Holon, di wilayah pendudukan 'Israel', tempat mereka berpindah lebih dari seabad lalu demi alasan ekonomi.

Komunitas ini memandang diri mereka sebagai bagian integral dari rakyat Palestina, bukan Yahudi. Untuk menghormati posisi mereka, pemimpin Palestina Yasser Arafat bahkan memberikan satu kursi khusus bagi perwakilan Samaritan di Parlemen Palestina pada 1996.

Namun, mereka juga kerap menghadapi pelecehan dan tekanan dari otoritas pendudukan 'Israel', yang membagi wilayah tempat tinggal mereka di Gunung Gerizim menjadi zona A, B, dan C, serta menutup akses ke situs-situs suci mereka, termasuk tempat yang mereka sebut “Benteng Dunia”, sambil melakukan penggalian arkeologis dengan tujuan menghapus bukti kesucian Gunung Gerizim bagi bangsa 'Israel' kuno, bukan Yerusalem. (zarahamala/arrahmah.id)