DAMASKUS (Arrahmah.id) - Suriah akan mencapai beberapa perjanjian keamanan dan militer dengan "Israel" pada akhir tahun ini, ujar seorang pejabat Kementerian Luar Negeri kepada AFP pada Kamis (18/9/2025), yang akan menjadi tonggak penting setelah penggulingan penguasa lama Bashar al-Assad.
Pada Kamis juga, Menteri Luar Negeri Asaad al-Shaibani mendarat di Washington, untuk melakukan kunjungan pertama dalam lebih dari 25 tahun.
"Ada kemajuan dalam pembicaraan dengan 'Israel'," kata pejabat kementerian yang meminta anonimitas karena tidak diizinkan untuk memberikan keterangan kepada media, menambahkan bahwa beberapa perjanjian diperkirakan akan ditandatangani "pada akhir tahun ini."
"Utamanya, ini akan berupa perjanjian keamanan dan militer," katanya, seraya menambahkan bahwa akan ada fokus pada "perjanjian untuk menghentikan operasi militer (Israel) di Suriah."
Sementara itu, televisi pemerintah melaporkan bahwa al-Shaibani mendarat di Washington untuk kunjungan resmi, sementara seorang sumber Kementerian Luar Negeri mengatakan kepada AFP bahwa tujuan perjalanan tersebut adalah untuk membahas pencabutan sanksi AS yang tersisa terhadap Suriah.
Amerika Serikat telah mencabut sebagian besar sanksi yang dijatuhkannya terhadap Suriah selama pemerintahan al-Assad setelah aliansi oposisi bersenjata menggulingkannya pada Desember.
Terakhir kali seorang menteri luar negeri Suriah berada di Amerika Serikat adalah pada tahun 1999, ketika diplomat tertinggi saat itu, Farouk al-Sharaa, mengadakan pembicaraan mengenai negosiasi perdamaian dengan "Israel".
Amerika Serikat telah mendesak Suriah dan "Israel" untuk mencapai kesepakatan yang akan menghentikan permusuhan antara kedua negara, yang secara teknis telah berperang sejak 1948.
Sejak Desember, "Israel" telah mengerahkan pasukan ke zona penyangga yang dipatroli PBB yang telah memisahkan pasukan kedua negara dan melancarkan ratusan serangan di Suriah.
"Israel" juga telah terlibat dalam negosiasi langsung dengan para penguasa baru Suriah. (haninmazaya/arrahmah.id)
