NEW YORK (Arrahmah.id) — Sebuah artikel di laman Ynet menyoroti meningkatnya kecemasan di kalangan elit “Israel” terhadap perubahan sikap generasi muda Amerika Serikat yang kian menunjukkan penolakan terhadap penjajahan “Israel”, bahkan setelah agresi brutal di Gaza.
Menurut tulisan yang ditulis oleh pakar hubungan Amerika–“Israel”, Kobi Barda, kekhawatiran ini semakin menguat ketika kritik tajam datang dari figur-figur yang selama ini dianggap dekat dengan kubu pendukung tradisional “Israel” di Amerika.
Dalam artikelnya, Barda menyoroti cuitan Nalin Haley, putra dari Nikki Haley—mantan Duta Besar AS untuk PBB sekaligus salah satu politisi yang dikenal sebagai sekutu kuat “Israel”. Dalam unggahan itu, Nalin menulis: “‘Israel’ hanyalah negara lain. Kalian harus berhenti mencampuri politik Amerika jika benar-benar ingin menjaga hubungan kita.”
Sebuah aksi protes untuk Palestina digelar di depan Universitas Columbia di New York City (AFP).
Barda menilai bahwa ucapan keras tersebut tidak muncul secara tiba-tiba akibat perang di Gaza semata. Ia menyebutnya sebagai indikasi perubahan yang jauh lebih dalam di kalangan generasi muda Amerika. Sikap Nalin, menurutnya, mencerminkan retorika yang selama beberapa tahun terakhir menggema di kampus-kampus Amerika—retorika yang berbicara tentang identitas, keadilan sosial, dan penindasan.
Hal ini menunjukkan bahwa gelombang penolakan terhadap “Israel” di kalangan anak muda bukan reaksi sesaat, tetapi hasil proses jangka panjang yang membentuk kesadaran satu generasi penuh, tulis Barda.
Sejumlah analis di “Israel” pun mulai mengakui bahwa proyek propaganda yang selama puluhan tahun menjaga citra “Israel” di Amerika Serikat tengah mengalami keretakan serius. Ketika kritik tidak lagi hanya datang dari kelompok progresif, tetapi juga dari anak-anak para politisi pro-“Israel” sendiri, kekhawatiran rezim penjajah itu terasa semakin nyata.
(Samirmusa/arrahmah.id)
