Memuat...

Perseteruan Meningkat: Trump Ancam Elon Musk Akibat Kritik terhadap RUU Anggaran

Samir Musa
Senin, 9 Juni 2025 / 13 Zulhijah 1446 11:43
Perseteruan Meningkat: Trump Ancam Elon Musk Akibat Kritik terhadap RUU Anggaran
Perseteruan Meningkat: Trump Ancam Elon Musk Akibat Kritik terhadap RUU Anggaran

NEW YORK (Arrahmah.id) - Sebuah laporan dari harian Washington Post mengungkap bahwa hubungan antara mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pengusaha miliarder Elon Musk semakin memburuk dan memanas dalam beberapa bulan terakhir, hingga mencapai puncaknya pada awal April lalu.

Trump bahkan mengancam akan menjatuhkan “konsekuensi serius” kepada Musk apabila sang pemilik Tesla dan SpaceX itu mendukung Partai Demokrat atau ikut serta dalam upaya menggagalkan legislasi anggaran yang didorong Partai Republik di Kongres.

Surat kabar itu mengutip mantan penasihat politik Trump, Steve Bannon, yang menyatakan bahwa ketegangan antara Musk dan pejabat tinggi di lingkaran Trump telah berlangsung lama. Hal ini dipicu oleh apa yang disebut Bannon sebagai “taktik brutal Musk, minimnya kecakapan politik, dan perbedaan ideologi dengan gerakan Make America Great Again (MAGA).”

Menurut Washington Post, konflik memuncak pada April lalu saat terjadi bentrokan fisik antara Elon Musk dan Menteri Keuangan AS, Scott Besant, di Gedung Putih.

Setelah Trump mengumumkan dukungannya terhadap Besant untuk menjadi Komisaris Sementara Lembaga Pajak Internal AS, ketegangan meningkat. Saat meninggalkan pertemuan di Ruang Oval, Musk dilaporkan mendorong bahunya ke dada Besant. Sang menteri merespons dengan pukulan sambil menyebut Musk “penipu.” Bentrokan itu langsung dilerai oleh beberapa orang yang hadir di tempat kejadian.

Steve Bannon menyebut bahwa Trump hanya berkomentar singkat usai insiden itu: “Ini sudah terlalu jauh.”

Tarik Ulur RUU Anggaran

Ketegangan tak berhenti di situ. Pada 2 April, Trump mengumumkan kebijakan tarif bea masuk baru yang diklaim bertujuan untuk mengatur ulang sistem ekonomi global. Kebijakan ini menuai kemarahan Elon Musk, yang mengungkapkan kekecewaannya melalui platform X (sebelumnya Twitter), serta mengajukan permintaan langsung kepada Trump untuk mencabut keputusan tersebut.

Pasar obligasi yang terguncang kemudian memaksa Trump untuk mundur dari keputusannya beberapa hari kemudian.

Namun perseteruan kembali memanas di pertengahan April ketika pembahasan rancangan undang-undang (RUU) anggaran bergulir. Musk mengecam RUU tersebut sebagai “aib yang menjijikkan,” sementara Trump membelanya sebagai “besar dan indah.” Dalam RUU itu, tercantum sejumlah potongan pajak bagi perusahaan energi dan teknologi besar, yang menurut para pengkritik ditujukan untuk menarik simpati dari para tokoh industri, termasuk Elon Musk.

Trump bersikeras bahwa legislasi itu penting untuk mempertahankan dominasi ekonomi Amerika Serikat di tengah persaingan global dengan Tiongkok dan Eropa.

Kendati demikian, Musk menolak tawaran Trump untuk duduk bersama menjembatani perbedaan pandangan. Sebaliknya, ia justru menggandakan serangan dalam serangkaian unggahan yang mengecam pendekatan ekonomi Trump sebagai “populisme impulsif yang tidak dapat dipertahankan.”

Sumber internal Partai Republik menyebut bahwa konflik ini menimbulkan kekhawatiran serius. Pasalnya, mereka sangat bergantung pada donasi kampanye dari para taipan industri teknologi seperti Musk. Perseteruan ini dikhawatirkan akan melemahkan posisi Partai Republik dalam pemilu mendatang.

Hingga berita ini ditulis, Elon Musk maupun juru bicaranya belum memberikan tanggapan resmi atas laporan tersebut.

(Samirmusa/arrahmah.id)