RIYADH (Arrahmah.id) -- Arab Saudi menghadapi serangan drone besar-besaran yang menargetkan wilayah strategis di ibu kota Riyadh dan beberapa lokasi penting lainnya. Kementerian Pertahanan Saudi menyatakan sistem pertahanan udara berhasil mencegat puluhan drone yang memasuki wilayah udara kerajaan, termasuk yang diarahkan ke kawasan elit diplomatik di Riyadh.
Menurut pernyataan resmi pemerintah Saudi, seperti dilansir Arab News (13/3/2026), lebih dari 50 drone berhasil dihancurkan oleh sistem pertahanan udara dalam kurun waktu sekitar 24 jam. Otoritas militer menyebut sedikitnya 53 drone dan lima rudal balistik berhasil dicegat dalam gelombang serangan terbaru yang terjadi di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.
Beberapa drone dilaporkan mencoba mendekati Diplomatic Quarter di Riyadh, kawasan elit yang menjadi lokasi kedutaan besar asing serta fasilitas pemerintahan penting. Serangan juga dilaporkan mengarah ke wilayah timur Saudi dan fasilitas energi strategis, meskipun sebagian besar berhasil dihentikan sebelum mencapai targetnya.
Media internasional melaporkan bahwa serangan drone tersebut merupakan bagian dari rangkaian eskalasi regional sejak perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pecah pada akhir Februari 2026. Konflik itu memicu serangan balasan berupa rudal dan drone terhadap berbagai negara di kawasan Teluk yang dianggap menampung atau mendukung operasi militer AS.
Selain Riyadh, beberapa negara Teluk lain juga mengalami serangan serupa. Kuwait melaporkan drone menyerang fasilitas energi di bandara internasionalnya, sementara negara lain seperti Bahrain dan Uni Emirat Arab turut menghadapi ancaman rudal dan drone dalam konflik regional yang terus meluas.
Arab Saudi sendiri telah menjadi salah satu target utama dalam gelombang serangan ini. Sejak perang regional dimulai, sejumlah lokasi di kerajaan—termasuk fasilitas minyak, pangkalan militer, dan bahkan instalasi diplomatik—telah menjadi sasaran drone dan rudal, meskipun sebagian besar berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara.
Analis keamanan menilai penggunaan drone dalam jumlah besar menunjukkan perubahan taktik perang di kawasan Timur Tengah, di mana serangan udara murah namun presisi tinggi semakin sering digunakan untuk menargetkan infrastruktur energi, militer, maupun simbol kekuatan negara. Eskalasi tersebut dikhawatirkan memperluas konflik regional dan meningkatkan risiko gangguan terhadap stabilitas energi global. (hanoum/arrahmah.id)
