Memuat...

Rusia Dilaporkan Pasok Intelijen untuk Gempur Posisi Militer AS

Zarah Amala
Sabtu, 7 Maret 2026 / 18 Ramadan 1447 09:44
Rusia Dilaporkan Pasok Intelijen untuk Gempur Posisi Militer AS
Para pejabat AS mengatakan Rusia mungkin memasok Iran dengan informasi intelijen tentang lokasi pasukan Amerika di wilayah tersebut. (Desain: Palestine Chronicle)

TEHERAN (Arrahmah.id) - Perang besar yang dipicu oleh agresi Amerika Serikat dan 'Israel' terhadap Iran kini memasuki babak baru yang lebih berbahaya. Laporan eksklusif dari The Washington Post mengungkapkan bahwa Rusia diduga kuat telah memberikan bantuan intelijen strategis kepada Iran untuk melakukan serangan presisi terhadap aset-aset militer Amerika Serikat di seluruh Timur Tengah. Langkah ini menandai eskalasi dramatis, di mana sebuah kekuatan nuklir besar mulai berpartisipasi secara tidak langsung dalam konflik tersebut.

Menurut pejabat intelijen yang dikutip dalam laporan tersebut, Moskow menyediakan data penargetan yang sangat akurat, termasuk lokasi kapal perang dan pergerakan pesawat militer AS sejak perang dimulai pada Sabtu lalu. Dukungan ini dianggap sebagai kunci di balik melonjaknya efektivitas serangan Iran. Analis militer mencatat bahwa Iran kini mampu menghantam target-target krusial seperti radar peringatan dini (early warning radars) dan pusat komando-kendali (C2) dengan tingkat kecanggihan yang melampaui kemampuan independen Teheran.

Salah satu insiden paling mematikan terjadi pada Ahad lalu (1/3/2026), ketika serangan drone Iran menghantam fasilitas AS di Kuwait dan menewaskan enam tentara Amerika. Para pakar, termasuk Dara Massicot dari Carnegie Endowment, menilai pola serangan Iran menunjukkan koordinasi tingkat tinggi yang hanya bisa dicapai dengan dukungan citra satelit dan intelijen sinyal canggih milik Rusia.

Kemitraan militer ini disebut-sebut sebagai bentuk balas budi strategis. Setelah Iran memasok teknologi drone massal kepada Rusia untuk perang di Ukraina sejak 2022, Moskow kini menggunakan kapabilitas satelitnya yang dikembangkan selama puluhan tahun untuk membantu Iran. Pejabat AS menyebutkan bahwa Rusia merasa senang bisa melakukan pembalasan (payback) atas bantuan intelijen Barat yang selama ini membantu Ukraina menggempur pasukan Rusia.

Meskipun juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menolak berkomentar, retorika para pejabat tinggi Rusia semakin tajam. Mantan Presiden Dmitry Medvedev memperingatkan bahwa tindakan pemerintahan Trump yang mencoba mengubah rezim politik di Teheran secara paksa adalah kesalahan fatal. Medvedev bahkan memberikan peringatan nuklir yang mengerikan, menyatakan bahwa jika konfrontasi global pecah, tragedi Hiroshima dan Nagasaki hanya akan terlihat seperti permainan anak-anak di kotak pasir.

Keterlibatan tidak langsung Rusia mengubah perang ini dari konfrontasi regional menjadi pergulatan geopolitik global. Sementara AS dan 'Israel' telah menyerang lebih dari 2.000 target di Iran, Teheran terus menunjukkan ketangguhan operasional yang didukung oleh data intelijen eksternal.

Kini, dengan jalur perdagangan di Selat Hormuz yang terganggu dan pasar energi global yang terguncang, keterlibatan Rusia memicu kekhawatiran bahwa konflik ini akan berkembang menjadi perang proksi modern dengan pertaruhan yang jauh lebih tinggi daripada era Perang Dingin. (zarahamala/arrahmah.id)