Memuat...

Tepi Barat Kian Membara, Pemukim 'Israel' Manfaatkan Perang Iran untuk Serang Warga Palestina

Zarah Amala
Sabtu, 7 Maret 2026 / 18 Ramadan 1447 10:01
Tepi Barat Kian Membara, Pemukim 'Israel' Manfaatkan Perang Iran untuk Serang Warga Palestina
Serangan pemukim 'Israel' meningkat sejak serangan terhadap Iran dilancarkan [Getty]

TEPI BARAT (Arrahmah.id) - Di tengah gempuran udara Amerika Serikat dan 'Israel' terhadap Iran, situasi keamanan di Tepi Barat yang diduduki memburuk drastis. Kelompok pemukim ekstremis 'Israel' dilaporkan meningkatkan frekuensi serangan terhadap warga Palestina dan desa-desa mereka, sering kali di bawah perlindungan militer 'Israel' (IDF).

Lembaga hak asasi manusia yang berbasis di Tel Aviv, Yesh Din, mendokumentasikan sedikitnya 50 kasus serangan pemukim hanya dalam empat hari sejak perang melawan Iran dimulai. Pola serangan ini meliputi kekerasan fisik, pengusiran paksa, hingga perusakan lahan pertanian milik warga Palestina.

Beberapa insiden menonjol dilaporkan terjadi di berbagai titik strategis di Tepi Barat. Media 'Israel' melaporkan pemukim melakukan intimidasi massal yang memaksa warga keluar dari rumah mereka di kota Duma. Polisi 'Israel' yang tiba di lokasi dilaporkan meninggalkan tempat kejadian tanpa melakukan penyelidikan atau tindakan hukum apa pun. Walikota Duma, Hussein Dawabsheh, menyatakan desa tersebut kini terkepung sepenuhnya oleh pemukim, bahkan upaya mengevakuasi pasien lansia berusia 88 tahun pun ditolak oleh militer.

Kantor berita resmi Palestina, Wafa, melaporkan seorang anak laki-laki bernama Ahmed Burhan Basharat diserang oleh pemukim saat sedang menggembalakan ternak milik ayahnya di Khribet Makhoul, Lembah Yordan.

Di timur laut Ramallah, pemukim menggunakan buldoser untuk meratakan lahan pertanian dan mencabut puluhan pohon zaitun guna membuka jalan bagi perluasan pemukiman ilegal.

Militer 'Israel' telah memberlakukan kebijakan blokade keamanan preventif di seluruh wilayah yang mereka sebut sebagai Yudea dan Samaria. Majalah +972 melaporkan pemasangan pintu-pintu besi baru dan penutupan pos pemeriksaan (checkpoint) secara permanen sejak serangan ke Teheran dimulai.

Tentara menyebarkan selebaran yang menyatakan bahwa seluruh wilayah berada dalam pengawasan ketat dan pembatasan pergerakan warga Palestina berlaku hingga waktu yang tidak ditentukan.

Para aktivis Palestina mencatat adanya kesamaan pola antara lonjakan serangan saat ini dengan penangkapan massal serta kekerasan yang terjadi di Tepi Barat pasca pecahnya perang di Gaza pada Oktober 2023. Mereka menilai situasi perang regional dengan Iran digunakan sebagai payung atau pengalih perhatian bagi pemukim untuk mempercepat penguasaan lahan dan melakukan pembersihan etnis secara perlahan. (zarahamala/arrahmah.id)