DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Menyambut penandatanganan dokumen bergabung dengan koalisi internasional yang dipimpin Amerika Serikat untuk memerangi kelompok militan Islamic State (ISIS), Suriah melakukan operasi besar-besaran membongkar sel kelompok itu.
Suriah mengatakan pada hari Sabtu (8/11/2025), seperti dilansir Anadolu Agency (8/11), bahwa mereka telah membongkar sel-sel milik kelompok ISIS sebagai bagian dari operasi keamanan berskala besar di beberapa provinsi yang akan digelar dalam waktu dekat.
Tak kurang, pada hari pertama operasi anti-ISIS, terjadi 61 penggrebekan di berbagai provinsi dan 71 orang di seputaran Homs dan Damaskus ditangkap. Sejumlah peralatan seperti IED, granat, amunisi, dan teropong termal ikut disita.
Sebuah pernyataan dari Kementerian Dalam Negeri mengatakan bahwa operasi tersebut dilakukan berdasarkan informasi intelijen yang tepat dan menghasilkan penangkapan orang-orang yang dicari serta penyitaan materi dan bukti yang menghubungkan mereka dengan kegiatan teroris.
"Operasi tersebut berada dalam kerangka upaya nasional yang sedang berlangsung untuk memerangi terorisme dan menghadapi rencana-rencana yang menargetkan keamanan negara dan keselamatan warga negara," tambahnya. "Operasi ini menghasilkan pembongkaran beberapa sel teroris dan penangkapan banyak orang yang dicari."
Operasi ini sejalan dengan upaya Presiden Suriah Ahmad Asy Syaraa yang rencananya akan berkunjung ke Washington pada Senin (10/11/2025) untuk menandatangani dokumen bergabung dengan koalisi internasional yang dipimpin AS untuk memerangi kelompok ISIS.
Sejak penggulingan Bashar al Assad pada akhir tahun 2024, pemerintahan baru Suriah telah mengambil beberapa langkah untuk memulihkan keamanan di Suriah dan mengupayakan reformasi politik dan ekonomi, sambil mempromosikan kohesi sosial dan berupaya memperluas kerja sama dengan mitra regional dan internasional.
Assad, pemimpin Suriah selama hampir 25 tahun, melarikan diri ke Rusia Desember lalu, mengakhiri rezim Partai Baath yang telah berkuasa sejak 1963. Pemerintahan transisi baru yang dipimpin oleh Presiden Ahmad asy Syaraa dibentuk pada bulan Januari. (hanoum/arrahmah.id)
