DAMASKUS (Arrahmah.id) – Serangan udara yang dilancarkan “Israel” terhadap instalasi militer Suriah di Damaskus dan Sweida pada Rabu (16/7/2025) memicu gelombang kecaman dari berbagai negara dan mendorong Amerika Serikat agar “Israel” segera membuka dialog dengan Damaskus guna meredakan ketegangan.
Jet-jet tempur “Israel” membombardir markas Departemen Pertahanan Suriah, kantor militer, dan area di sekitar Istana Presiden di Damaskus serta sejumlah titik di Sweida, di tengah meningkatnya bentrokan antara pasukan pemerintah dan kelompok bersenjata lokal.
Turki Kecam Keras
Kementerian Luar Negeri Turki mengutuk keras serangan tersebut, menyebutnya sebagai “upaya merusak stabilitas” dan “menggagalkan peluang damai Suriah” pasca tumbangnya Bashar al-Assad pada Desember lalu. Ankara menyeru seluruh pihak untuk mendukung pemerintah transisi Suriah dalam upaya menciptakan ketenangan.
Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, menegaskan bahwa mendukung sebagian warga Druze dan menjadikan mereka alat ketidakstabilan adalah tindakan yang tidak bisa diterima. Ia menyatakan, “Tanpa kehadiran keamanan pemerintah pusat, tak ada solusi di Suriah.” Fidan juga memperingatkan bahwa membiarkan Suriah terpecah hanya akan memperpanjang kekacauan, dan itu adalah hal yang “tidak bisa kami terima.”
https://videopress.com/v/xky9UKRY
Amerika Serikat Minta “Israel” Hentikan Serangan
Presiden AS Donald Trump menyatakan telah berbicara dengan pihak Suriah dan “Israel”, mengakui adanya “kesalahpahaman” di antara keduanya dan menyatakan keinginan untuk menurunkan ketegangan.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengaku Washington “sangat khawatir” atas agresi “Israel” dan telah melakukan komunikasi intensif dengan pihak-pihak terkait. Ia menyebutkan, “Kami sedang menangani isu ini segera, dan berharap mendapat laporan terkini. Kami sangat prihatin.”
Menurut laporan Axios, pemerintahan Trump telah meminta “Israel” untuk menghentikan serangan dan memulai dialog langsung dengan pemerintah di Damaskus. Utusan khusus Gedung Putih, Thomas Barrack, menyerukan semua pihak untuk “mundur selangkah” dan memulai perundingan demi gencatan senjata yang langgeng di Sweida. Ia menegaskan bahwa kekerasan terhadap warga sipil harus dihentikan dan para pelaku harus dimintai pertanggungjawaban.
Eropa Desak Penghentian Kekerasan
Uni Eropa mengungkapkan kekhawatiran mendalam atas konflik di Suriah, dan menyerukan semua pihak untuk melindungi warga sipil tanpa diskriminasi serta menghormati kedaulatan Suriah di tengah meningkatnya serangan “Israel”.
Prancis menyebut tindakan terhadap warga sipil di Sweida sebagai “pelanggaran yang tidak dapat diterima” dan meminta semua pihak menghentikan pertempuran serta menghormati perjanjian gencatan senjata.
Jerman, melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Christian Wagner, meminta “Israel” untuk tidak melakukan tindakan yang dapat mengguncang stabilitas Suriah. Ia menekankan bahwa Suriah tidak boleh menjadi “mainan kekuatan asing”, dan menyatakan bahwa kepentingan “Israel” justru berada pada Suriah yang stabil dan bersatu.
Kecaman dari Negara-Negara Arab dan Kelompok Perlawanan
Presiden Lebanon, Jozef Aoun, mengecam keras serangan “Israel” yang disebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Suriah dan hukum internasional. Ia menegaskan solidaritas penuh Lebanon terhadap Suriah, baik rakyat maupun pemerintahnya.
Pemerintah Yordania menegaskan bahwa Suriah memiliki hak untuk menguasai seluruh wilayahnya, dan menyebut warga Sweida sebagai bagian dari kesatuan bangsa Suriah.
Uni Emirat Arab menyambut baik kesepakatan gencatan senjata di Sweida dan mengutuk “eskalasi” yang dilakukan “Israel”, serta menegaskan dukungan terhadap stabilitas dan keutuhan wilayah Suriah.
Kelompok Hamas menyebut serangan tersebut sebagai bentuk “terorisme terorganisir” dan pelanggaran kedaulatan Suriah. Mereka mendesak Liga Arab, OKI, dan PBB untuk mengecam dan mengambil langkah nyata menghentikan “arogansi zionis”.
Jihad Islami juga mengecam keras agresi tersebut dan menyatakan dukungan penuh terhadap rakyat Suriah dalam mempertahankan diri.
Sementara itu, Hizbullah menilai bahwa serangan “Israel” adalah bagian dari proyek besar untuk menghancurkan negara-negara kawasan dan menyulut perpecahan.
Latar Belakang Ketegangan di Sweida
Wilayah Sweida yang mayoritas penduduknya berasal dari komunitas Druze mengalami bentrokan sengit antara kelompok bersenjata lokal dan pasukan pemerintah sejak pekan lalu. Puluhan orang dilaporkan tewas akibat konflik yang dipicu oleh insiden penculikan antar kelompok.
Pasukan pemerintah memasuki kota untuk mengawasi pelaksanaan gencatan senjata yang disepakati dengan tokoh-tokoh lokal. Namun, gencatan senjata itu kembali dilanggar setelah beberapa jam.
Serangan “Israel” yang diklaim untuk “melindungi Druze” memicu ketegangan lebih luas, terutama setelah mereka menghantam pusat-pusat pemerintahan di Damaskus dan Sweida. Menteri Pertahanan “Israel”, Yisrael Katz, menyatakan bahwa “peringatan telah usai” dan mengancam akan meluncurkan “serangan lebih menyakitkan.”
(Samirmusa/arrahmah.id)
