GAZA (Arrahmah.id) - Tentara pendudukan 'Israel' menyatakan bahwa tiga prajurit dari Brigade Golani terluka, satu di antaranya dalam kondisi serius, bersama seorang prajurit dari Divisi Gaza yang mengalami luka sedang dalam bentrokan dengan pejuang perlawanan Palestina di Rafah, Jalur Gaza bagian selatan.
Militer 'Israel' menyebutkan bahwa para prajurit itu terluka saat berhadapan dengan sekelompok pejuang yang muncul dari sebuah terowongan di Rafah timur.
Sebelumnya, Channel 14 Israel melaporkan adanya baku tembak hebat antara pasukan 'Israel' dan pejuang Palestina di kawasan tersebut.
Radio Tentara 'Israel'mengutip seorang sumber militer yang mengklaim bahwa tentara 'Israel' menewaskan dua pejuang, sementara seorang lainnya dilaporkan memasang bahan peledak pada kendaraan lapis baja sebelum kembali masuk ke dalam terowongan.
Sumber yang sama juga menyebut bahwa satu sel beranggotakan tiga orang keluar dari terowongan di Rafah dan menembakkan rudal anti-tank ke arah pasukan 'Israel'.
Koresponden Al Jazeera melaporkan adanya helikopter militer 'Israel' yang mendarat di timur Rafah. Media 'Israel' Walla, mengutip sumber keamanan, menyatakan bahwa sebuah unit 'Israel' terkena serangan rudal anti-tank sehingga memicu bentrokan langsung dengan para pejuang Palestina.
Dalam beberapa pekan terakhir, media 'Israel' kerap mengklaim bahwa seluruh pejuang perlawanan yang tersisa di wilayah tersebut telah “dilenyapkan”, meski laporan bentrokan terus muncul dari Rafah timur.
Di sisi lain, 'Israel' telah melakukan sejumlah pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata yang disepakati antara Hamas dan 'Israel', dengan mediasi Mesir, Qatar, dan Turki, serta didukung Amerika Serikat.
Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, tentara 'Israel' melanggar perjanjian tersebut sebanyak 591 kali, menyebabkan sekitar 357 warga Palestina tewas dan 903 lainnya terluka hingga Ahad lalu (30/11/2025).
Operasi militer 'Israel' yang dimulai pada 7 Oktober 2023 itu telah menewaskan lebih dari 70.000 warga Palestina serta melukai sekitar 171.000 orang, sebagian besar anak-anak dan perempuan, serta menghancurkan infrastruktur secara masif, dengan biaya rekonstruksi yang kini tengah dihitung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. (zarahamala/arrahmah.id)
