GAZA (Arrahmah.id) -- Pada hari Senin (13/10/2025), Hamas membebaskan Nader Sadaqa, tahanan beragama Yahudi Samaria yang telah menghabiskan 21 tahun di penjara 'Israel'. Pembebasannya merupakan bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan yang disepakati berdasarkan perjanjian internasional gencatan senjata Gaza.
Lalu siapakah Nader Sadaqa?
Dilansir Newsroom Info (17/10), Sadaqa lahir pada tahun 1977 di Nablus dan besar di komunitas Yahudi Samaria. Dia mempelajari sejarah dan arkeologi di Universitas An-Najah dan menjadi terkenal sebagai komandan lapangan dan pemikir dalam gerakan mahasiswa.
Sadaqa kemudian menjadi pejuang perlawanan yang gigih dalam Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP), faksi perlawanan Palestina yang berhaluan sosialis, hingga akhirnya menjadi tahanan Yahudi pertama di penjara 'Israel'.
Ia didakwa dengan pelanggaran berat dan dijatuhi hukuman enam hukuman seumur hidup.
Pasukan 'Israel' menangkap Sadaqa saat Intifada Al Aqsa pada Agustus 2004, setelah perburuan selama dua tahun menyusul aktivitasnya di dalam PFLP dan kepemimpinannya atas Brigade Abu Ali Mustafa di Nablus.
Setelah penangkapannya dari kamp pengungsi Al-Ain, ia menjalani interogasi yang keras di penjara Petah Tikva dan menghadapi berbagai tuduhan, termasuk melakukan serangan terhadap lokasi militer, terutama serangan pos pemeriksaan Hamra yang menewaskan dua tentara 'Israel'. Ia dijatuhi hukuman enam hukuman seumur hidup dan tambahan 45 tahun penjara.
Meski disiksa dengan keras, Sadaqa tetap menolak untuk menghadap hakim. Dia terus menolak segala upaya hukum yang dilakukan 'Israel' sejak penangkapannya. Ia juga menolak untuk mengaku atau bekerja sama dengan penyidik dan tidak menghadap hakim selama persidangan militernya.
Ketika putusan dijatuhkan, ia menghina hakim penghinaan yang terang-terangan, yang berujung pada hukuman yang lebih berat. Ia akhirnya menghabiskan waktu yang lama di sel isolasi
Nader Sadaqa merupakan contoh kasus yang unik di antara para tahanan Palestina sebab dia adalah satu-satunya tahanan Palestina dari komunitas Yahudi Samaria, komunitas Yahudi pribumi yang telah tinggal di Gunung Gerizim selama ribuan tahun.
Kehadirannya sebagai pejuang perlawanan Yahudi Samaria mencoreng citra yang ingin dibangun oleh pendudukan 'Israel'.
Sebelumnya, 'Israel' menolak untuk memasukkannya dalam perjanjian pertukaran. Israel kerap mengabaikan keterlibatan Sadaqa dalam semua kesepakatan pertukaran, termasuk kesepakatan Wafa al-Ahrar 2011 dan kesepakatan Banjir Al Aqsa pertama selama perang di Gaza, meskipun ada tuntutan luas dari pihak Yahudi Samaria dan Palestina.
Pendudukan memandang pembebasannya sebagai ancaman bagi citra negara Yahudi di kalangan Yahudi Samaria, yang coba ditaklukkan dan dinetralisir.
Di dalam penjara 'Israel', Sadaaa menjadi seorang intelektual dan otoritas intelektual dalam gerakan tahanan. Ia menghabiskan tahun-tahunnya di penjara dengan membaca sejarah dan yurisprudensi politik, berpartisipasi mendidik para tahanan, dan mengorganisir aksi mogok.
Artikel dan analisis intelektualnya banyak yang diterbitkan, dan ia dianggap sebagai pemikir penjara serta teladan bahwa perlawanan tidak berhenti meskipun ada di sel penjara. (hanoum/arrahmah.id)
