Memuat...

Teleponan Satu Jam, Putin dan Trump Cari Jalan Pintas Damai buat Iran

Zarah Amala
Selasa, 10 Maret 2026 / 21 Ramadan 1447 11:08
Teleponan Satu Jam, Putin dan Trump Cari Jalan Pintas Damai buat Iran
Trump (kanan) yakin percakapan telepon dengan Putin tentang isu Iran dan Ukraina berjalan lancar (Reuters-Arsip)

FLORIDA (Arrahmah.id) - Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump melakukan pembicaraan telepon selama satu jam pada Senin (9/3/2026) untuk membahas penyelesaian cepat konflik Iran melalui jalur politik dan diplomatik. Penasihat Kebijakan Luar Negeri Kremlin, Yuri Ushakov, menyatakan bahwa panggilan tersebut dilakukan atas permintaan pihak Amerika Serikat.

Dalam pembicaraan tersebut, Putin menawarkan sejumlah proposal konkret kepada Trump guna mengakhiri eskalasi militer di Iran yang telah berlangsung sejak akhir Februari. Selain isu Iran, kedua pemimpin juga membahas kelanjutan negosiasi Ukraina, situasi di Venezuela, serta prospek pasar minyak global yang tengah terguncang akibat penutupan Selat Hormuz.

Menyusul lonjakan harga energi global, Trump mengisyaratkan bahwa AS sedang mempertimbangkan kemungkinan untuk melonggarkan sanksi terhadap minyak Rusia. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengonfirmasi langkah ini bertujuan untuk meningkatkan pasokan global guna menstabilkan harga pasar yang terdampak perang Iran.

Trump menggambarkan pembicaraan tersebut sebagai diskusi positif terkait upaya mengakhiri perang empat tahun di Ukraina. Meski pertempuran di lapangan masih berlanjut, Trump menyatakan optimisme terhadap mediasi yang sedang berjalan.

Di sisi lain, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, menyatakan bahwa Teheran siap melakukan gencatan senjata dengan syarat tidak ada lagi agresi lebih lanjut terhadap wilayah mereka. Ia juga mengonfirmasi bahwa Rusia, Cina, dan Prancis terus berkomunikasi aktif dengan Iran terkait upaya damai ini.

Perang yang diluncurkan AS dan 'Israel' sejak 28 Februari lalu telah mengakibatkan tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta sejumlah komandan Garda Revolusi. Sebagai balasan, Iran terus menggempur apa yang mereka sebut sebagai pangkalan militer AS di kawasan Teluk, meskipun serangan tersebut turut berdampak pada fasilitas sipil dan menimbulkan protes keras dari negara-negara Arab yang terdampak. (zarahamala/arrahmah.id)