GAZA (Arrahmah.id) - Dalam laporan lapangan yang jarang terjadi dari dalam lingkungan Tel al-Hawa di Kota Gaza, surat kabar The Daily Telegraph mengungkap detail pertempuran sengit yang sedang berlangsung antara tentara 'Israel' dan apa yang digambarkannya sebagai “generasi baru dari pejuang Hamas.”
Menurut laporan tersebut, reputasi 'Israel' di mata dunia telah mengalami kerusakan besar akibat kehancuran dan pembunuhan massal terhadap warga sipil di Gaza.
Henry Bodkin, koresponden Telegraph di Yerusalem, menulis bahwa rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang di Gaza sebenarnya menjawab sebagian besar tujuan perang 'Israel', terutama dalam hal pembebasan tawanan dan memastikan bahwa Hamas tidak lagi menjadi ancaman.
Bodkin menjelaskan bahwa surat kabarnya mendapat izin yang sangat langka untuk memasuki Tel al-Hawa, wilayah di barat daya Kota Gaza yang kini menjadi ajang pertempuran. Di sana, tentara 'Israel' bertempur melawan kelompok muda pejuang Hamas yang disebut lebih berani dan terorganisir, meski tidak berpengalaman seperti generasi sebelumnya.
Seorang pejabat tinggi 'Israel' yang tidak disebutkan namanya menggambarkan para pejuang itu sebagai “bertarung dengan kegigihan luar biasa dan bekerja secara terkoordinasi, meski tak memiliki keahlian taktis seperti pendahulu mereka.”
Ia menambahkan, para pejuang muda ini mampu membaca titik lemah pasukan 'Israel' dan memanfaatkannya dengan cepat, menjadikan mereka lawan yang tidak bisa diremehkan.
Bayangan kematian di reruntuhan
Menurut Bodkin, setengah dari menara-menara apartemen di Tel al-Hawa kini rata dengan tanah.
Di antara sisa-sisa bangunan itulah, para tentara 'Israel' berlindung sejenak di ruangan gelap tanpa jendela, berusaha mengambil napas dari ancaman penembak jitu Hamas yang terus mengintai.
Laporan itu menyebut bahwa dalam beberapa pekan terakhir, pasukan 'Israel' menderita kerugian besar di wilayah tersebut.
Para penembak jitu Hamas berhasil memposisikan diri di gedung-gedung yang rusak, menargetkan prajurit satu per satu, sementara pengintai mereka mengatur jalannya serangan.
Seorang komandan kompi dari Divisi ke-36 Israel bahkan tewas terkena tembakan RPG di dekat lokasi itu dua pekan lalu.
Secara politis, The Telegraph mencatat bahwa banyak pengamat menilai rencana perdamaian Trump tidak seimbang, ia menenangkan kekhawatiran 'Israel', tetapi hanya memberikan janji samar tentang pembentukan negara Palestina yang merdeka dan berkelanjutan di masa depan.
Dalam laporannya, Bodkin juga mewawancarai warga Palestina yang kini mengungsi akibat perang.
Salah satunya adalah Majed Qudeih, 45 tahun, yang kini tinggal di kawasan Al-Mawasi. Ia mengatakan tidak percaya Hamas akan menyetujui syarat-syarat perjanjian, terutama terkait pelucutan senjata yang mereka anggap garis merah.
“Kalau Hamas menyerahkan senjatanya,” katanya, “'Israel' akan tetap melanjutkan serangan, bahkan dengan jaminan internasional sekalipun.”
Sementara itu, Al-Saqqa (48), warga Gaza yang kini mengungsi di bagian selatan, menilai bahwa rencana Trump tidak akan membawa manfaat nyata bagi warga Gaza maupun rakyat Palestina secara keseluruhan.
Meski mendukung upaya apa pun untuk menghentikan perang, ia berkata dengan getir: “Kami sudah kehilangan segalanya, nyawa, rumah, dan hidup kami. Karena itu, menghentikan perang hari ini, berapa pun harganya, lebih baik daripada menundanya sampai besok dengan harga yang lebih menyakitkan bagi Gaza.” (zarahamala/arrahmah.id)
