GAZA (Arrahmah.id) — Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat (1/8) menyatakan bahwa ia ingin memastikan rakyat Gaza mendapatkan makanan yang layak. Hal ini disampaikan di tengah laporan yang menyebutkan adanya kesepakatan antara Washington dan “Israel” terkait apa yang disebut sebagai prinsip-prinsip solusi untuk Gaza.
Trump mengungkapkan bahwa dua pekan lalu, Washington telah mengirimkan bantuan senilai 60 juta dolar untuk Gaza, namun ia tidak melihat hasil nyata dari bantuan tersebut. Ia menegaskan pentingnya menjamin kebutuhan pangan bagi rakyat di Jalur Gaza yang terkepung.
Jaringan berita ABC mengutip seorang pejabat “Israel” yang mengatakan bahwa utusan AS, Steve Witkoff—yang tengah berkunjung ke “Israel”—telah mencapai kesepakatan dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengenai “prinsip solusi” untuk Gaza.
Menurut laporan itu, kesepakatan tersebut mencakup pembahasan gencatan senjata yang akan mencakup pembebasan sandera dan perlucutan senjata Hamas, serta peningkatan bantuan kemanusiaan ke Gaza yang akan dilakukan bersama oleh “Israel” dan Amerika Serikat.
Juru bicara Gedung Putih, Caroline Levitt, pada Kamis (31/7) menyatakan bahwa Presiden diperkirakan akan menyetujui rencana baru bantuan kemanusiaan untuk Gaza pada hari ini.
Upaya Internasional dan Seruan Penghentian Perang
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadewohl, tiba di Tel Aviv usai kunjungannya ke Yerusalem untuk bertemu para pejabat “Israel” guna membahas cara-cara meredakan penderitaan rakyat Gaza.
Di saat yang sama, puluhan mantan pejabat militer dan keamanan “Israel” menggelar demonstrasi di depan Kementerian Pertahanan menuntut diakhirinya perang di Gaza.
Dari sisi lain, keluarga para tawanan “Israel” mendesak Washington agar menekan Netanyahu untuk menyetujui kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan.
Di Tel Aviv, polisi “Israel” membubarkan aksi demonstrasi yang menuntut diakhirinya kebijakan penjajahan melalui kelaparan serta penghentian agresi brutal ke Gaza.
Dalam pernyataan terpisah, Program Pangan Dunia (WFP) menegaskan bahwa krisis kelaparan di Gaza tidak akan dapat dihentikan tanpa peningkatan besar-besaran dalam pengiriman bantuan kemanusiaan.
Hanya 104 dari 600 Truk Bantuan yang Masuk
Kantor pemerintahan di Gaza menyatakan bahwa pada Kamis (31/7), hanya 104 truk bantuan kemanusiaan yang berhasil masuk ke wilayah Gaza. Namun, sebagian besar truk tersebut dirampok dan dijarah karena kekacauan keamanan yang terjadi akibat apa yang disebut sebagai “rekayasa kekacauan dan kelaparan” oleh pendudukan.
Pihak pemerintah menegaskan bahwa kebutuhan harian Gaza tidak kurang dari 600 truk bantuan dan bahan bakar untuk memenuhi standar minimum kelangsungan hidup, terlebih dalam kondisi keruntuhan total infrastruktur di wilayah yang hancur lebur ini.
Mereka menyalahkan “Israel” dan negara-negara yang terlibat dalam kejahatan genosida atas bencana kemanusiaan yang terus berlangsung di Jalur Gaza.
Pemerintah di Gaza menyerukan pembukaan seluruh perlintasan secara menyeluruh dan mendesak, serta pengiriman bantuan, termasuk susu bayi, dalam jumlah mencukupi dan dengan pengawasan independen dari PBB untuk menjamin distribusi yang aman dan terorganisir.
Mereka juga mengutuk keras kebijakan kelaparan dan kekacauan sistematis yang diterapkan atas lebih dari 2,4 juta penduduk Gaza—termasuk 1,1 juta anak-anak—yang dirampas hak dasarnya untuk hidup, terutama hak mendapatkan makanan dan susu bayi.
Perang Genosida dan “Perang Kelaparan”
Seruan internasional untuk mengakhiri perang dan blokade atas Gaza semakin menguat, terlebih setelah meningkatnya jumlah korban jiwa akibat kelaparan, yang terbunuh dalam “perangkap kematian” di titik-titik distribusi bantuan milik “Gaza Humanitarian Foundation”—lembaga yang disebut memiliki keterkaitan dengan Amerika dan “Israel”.
Serangan ini terus berlangsung sejak 7 Oktober 2023, di mana “Israel” dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat, melakukan genosida terbuka terhadap rakyat Gaza, menewaskan lebih dari 207.000 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak, serta menyebabkan lebih dari 10.000 orang hilang dan ratusan ribu lainnya mengungsi.
Kondisi ini juga menyebabkan kelaparan parah dan belum pernah terjadi sebelumnya yang telah merenggut nyawa puluhan anak-anak di Gaza yang terkepung.
(Samirmusa/arrahmah.id)
